Kolaborasi Balawan dan Maestro Gamelan Bali

 

Gitaris berdarah Bali, Balawan, bersama para maestro gamelan Bali yang tergabung dalam Balawan Maestro Gamelan Project menggelar konser perdana pada 24 September lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Sebuah kolaborasi yang digagas untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara individual ini menjadi bagian dari rangkaian acara bertajuk Gedung Kesenian Jakarta Internasional Festival 2011.

Personel Maestro Gamelan Project ini terdiri dari I Made Subandi dan I Ketut Lanus yang memainkan gangsa, rindik, dan kendang perkusi. Lalu I Nyoman Suarsana pada kendang dan suling, serta I Wayan Sudarsana pada suling, cengceng, dan genggong. Ditambah oleh Ketut Tarmadi pada bass dan I Wayan Balawan pada gitar dan synth.

Para maestro gamelan ini menguasai lebih dari satu alat musik, mereka piawai memainkan dua hingga tiga alat musik, itu sebabnya mereka disebut sebagai maestro, demikian Balawan menjelaskan pada penonton. Meskipun hanya berenam, namun penampilan mereka malam itu tetap menawan dengan musik yang dihasilkan layaknya kelompok gamelan dengan belasan awak.

Mengawali pertunjukkan dengan masing-masing pemain gamelan memainkan alat musik mereka. Disusul dengan kemunculan Balawan ke atas panggung dan sebuah lagu berjudul “Biarkan Saja” membuka penampilan mereka malam itu. Gamelan Bali yang rancak berpadu dengan suara gitar dan bass menghasilkan harmoni musik yang enak di telinga. Sebuah sajian jazz fusion yang kental dengan nuansa etnik yang memikat.

Disetiap jeda lagu Balawan selalu membuka percakapan dengan penonton. Banyak hal yang diperbincangkan. Bahkan di salah satu sesi ia sempat memberi kesempatan bagi penonton untuk bertanya. Namun, karena tak ada yang mengajukan pertanyaan, Balawan pun kembali berbagi cerita.

Proyek yang digagas Balawan ini berangkat dari keinginan untuk mengeksplorasi musik tradisional khususnya gamelan Bali, yang sesungguhnya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, namun sayangnya sejauh ini justru lebih banyak dikenal di luar negeri. Selain itu, Balawan juga ingin menunjukkan kebanggaannya terhadap gamelan Bali. Kolaborasi yang dilakukannya juga merupakan upaya untuk menarik minat anak muda agar mau mengenal gamelan.

Proyek ini juga bertujuan untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara personal kepada publik. Selama ini mereka lebih banyak bermain bersama sanggar tempat mereka bernaung dan justru lebih sering tampil dalam pentas-pentas kesenian di luar negeri.

Pada pertunjukkan malam itu Balawan juga mengenalkan dan mejelaskan alat musik yang dimainkan satu persatu kepada penonton. Ia juga meminta masing-masing personel untuk menunjukkan teknik memainkan alat musik tersebut. Seperti gangsa (baca: gangse), yang bisa dimainkan sendiri atau berdua, dengan bilah-bilah logamnya harus diganti terlebih dahulu. Atau genggong yang memiliki suara yang unik.

Balawan, yang dikenal dengan teknik permainan gitar tapping technique atau touch technique dengan menggunakan 8 jari yang menyerupai piano ini, juga sempat mengaku kalau ia lebih senang memainkan gitar dengan satu leher dibandingkan dengan dua leher, karena lebih berat, meski penggemarnya lebih suka melihatnya beratraksi dengan gitar leher ganda. Balawan pun mempertontonkan bagaimana dengan menggunakan gitar dua leher, ia bisa memainkan banyak nada sekaligus.

Selain “Biarkan Saja”, malam itu sejumlah lagu mereka mainkan, seperti “Belajar Menari”, “Ririmemeri”, dan lagu anak-anak Bali, “Made Cenik”. Juga sebuah lagu berjudul “Kotekan” yang terdengar menarik. Balawan sempat bercerita bahwa menciptakan lagu tanpa lirik tidaklah mudah, mengingat hanya dengan musik mereka mengajak pendengar untuk bisa masuk dalam lagu yang diciptakan.

Seperti pada lagu berjudul “What’s Left Now in Our Land”. Menurut Balawan, lagu ini menggambarkan kegelisahan Balawan atas kondisi Bali saat ini, dimana seakan sudah tidak ada yang tersisa, bahkan sawah-sawah sudah berganti menjadi vila. Tak ketinggalan sebuah lagu berjudul “Jayaprana” juga dinyanyikan Balawan malam itu. Lagu ini biasa dinyanyikan Balawan bersama kelompoknya Batuan Ethnic Fusion.

Dalam konsernya malam itu, Balawan juga sempat mengajak penonton untuk menyaksikan sebuah film pendek yang kebetulan dibikin oleh adik iparnya, Agung Bayu Pramana dengan judul “Patung Berjiwa”. Film ini tidak bersuara, sehingga selama diputar, Balawan mengisi musik background-nya secara live.

Pertunjukkan yang memikat dan sebuah ‘project’ yang layak didukung. Balawan Maestro Gamelan Project membuktikan lewat ‘kemasan’ yang tepat, musik tradisional tetap menarik untuk dinikmati.

 

Advertisements

~ by anita dhewy on October 27, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: