<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>anita dhewy</title>
	<atom:link href="http://anitadhewy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anitadhewy.wordpress.com</link>
	<description>tentang gelisah yang kerap usik nyenyak tidurku tentang resah yang slalu bayangi tiap jejak perjalananku tentang tanya yang acap hadir kala puas menyergapku</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Dec 2011 13:44:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='anitadhewy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>anita dhewy</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anitadhewy.wordpress.com/osd.xml" title="anita dhewy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://anitadhewy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Selembar Formulir Dan Perempuan Yang Tak Dianggap Subyek</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/11/23/selembar-formulir-dan-perempuan-yang-tak-dianggap-subyek/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/11/23/selembar-formulir-dan-perempuan-yang-tak-dianggap-subyek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 18:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[patriarki]]></category>
		<category><![CDATA[phallogosentris]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[subyek]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Mungkin itu hanya selembar kertas, yang bisa jadi bagi banyak orang tak berarti apa-apa. Kertas itu tepatnya sebuah formulir yang harus diisi oleh pasien rawat jalan di sebuah rumah sakit di bilangan Salemba. Namun formulir itu mampu membuat kening saya berkerut dan mengusik pikiran saya. Sebelum berpanjang lebar ada baiknya saya memberi sedikit gambaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=252&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin itu hanya selembar kertas, yang bisa jadi bagi banyak orang tak berarti apa-apa. Kertas itu tepatnya sebuah formulir yang harus diisi oleh pasien rawat jalan di sebuah rumah sakit di bilangan Salemba. Namun formulir itu mampu membuat kening saya berkerut dan mengusik pikiran saya. Sebelum berpanjang lebar ada baiknya saya memberi sedikit gambaran atas situasi yang ada.</p>
<p>Pagi itu saya perlu menemui dokter karena ada benjolan kecil semacam kutil di telapak jari telunjuk kanan saya. Dokter di bagian umum menyebutnya mata ikan. Apapun namanya yang jelas benjolan itu mengganggu dan terasa sakit jika tersenggol, hingga memaksa saya menemui dokter. Dari dokter umum di balai pelayanan kesehatan, saya dirujuk ke dokter spesialis bedah.</p>
<p>Nah, disinilah ketika proses mendaftar sebagai pasien rawat jalan, saya disodori formulir yang harus diisi. Di dalam formulir tersebut, dari sejumlah pertanyaan standar seperti nama pasien, tempat/tanggal lahir, alamat dan sejenisnya, ada satu pertanyaan yang mengganggu saya, yakni pertanyaan tentang nama orang tua/suami.</p>
<p>Membaca kalimat itu tak bisa tidak membuat saya terusik. Selintas memang tampak tak ada yang aneh. Sepertinya wajar saja jika seorang pasien ditanya nama orang tuanya. Kita bisa saja berandai-andai positif, meski mungkin terlalu jauh, bahwa jika misalnya si pasien berada dalam situasi darurat, maka pihak rumah sakit bisa menghubungi keluarga pasien. Apalagi jika pasien ini belum tergolong dewasa, maka perlu untuk mengetahui identitas orang tua pasien.</p>
<p>Namun opsi nama suami yang ditanyakan memunculkan pertanyaan mengapa, ya, mengapa hanya tertulis nama orang tua/suami dan bukan nama orang tua/suami/istri? Membaca pertanyaan nama orang tua/suami, maka asumsi awal yang akan muncul adalah pertanyaan ini lebih ditujukan bagi pasien berjenis kelamin perempuan!</p>
<p>Ada dua hal penting disini. Pertama, pertanyaan siapa nama suami menunjukkan bahwa seorang perempuan yang sudah bersuami, keberadaannya akan dikaitkan atau dilekatkan pada sosok sang suami. Ia tidak diperhitungkan sebagai seorang pribadi yang utuh, sebagai subyek yang berdaulat atas dirinya.</p>
<p>Jika dasar pemikirannya adalah pertimbangan praktis seperti yang saya paparkan di atas terkait pertanyaan nama orang tua, maka seharusnya pertanyaan yang diajukan bukan hanya nama orang tua/suami. Dengan hanya mengajukan pertanyaan nama orang tua/suami, maka disisi lain pertanyaan ini sekaligus juga menegaskan proposisi yang sebaliknya bahwa seorang laki-laki yang sudah menikah tidak harus diidentifikasi dengan sang istri. Ia bisa menjadi subyek yang independen, berdiri sendiri dan tak harus terkait dengan sang istri.</p>
<p>Dalam konteks yang tidak jauh berbeda, situasi ini mengingatkan saya pada kebiasaan yang berlaku di masyarakat kita, dimana ketika seorang perempuan sudah menikah, maka seringkali ia akan dipanggil dengan nama sang suami. Dalam beberapa kasus, bahkan bisa dikatakan perempuan tak lagi memiliki namanya sendiri. Identitas seorang perempuan seolah-olah melebur, hilang, dan berganti dengan identitas yang baru, identitas suami.</p>
<p>Kembali pada pertanyaan tentang nama orang tua/suami, poin penting yang kedua adalah, pertanyaan ini menegaskan bahwa untuk urusan yang bersifat publik, posisi perempuan dilihat sebagai bagian dari laki-laki (entah orang tua – dalam hal ini ayah, entah suami). Ia bukan individu yang otonom.</p>
<p>Jadi, pertanyaan yang tampak sederhana tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai sebuah pertanyaan biasa yang tak punya pretensi apapun. Pertanyaan tersebut tentu tak muncul begitu saja, ada konteks yang membentuk dan melatarinya. Karena bahasa sendiri tidaklah netral, sebaliknya, bahasa seringkali tercelup dalam ideologi. Bahasa mencerminkan cara berpikir, ideologi, dan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat, dalam hal ini masyarakat patriarki.</p>
<p>Posisi perempuan yang terpinggirkan dalam bahasa tidak terlepas dari konsep <em>phallogocentrism</em>, dimana model pemikiran dan bahasa yang berlaku dalam sistem patriarki berpusat pada <em>phallus</em>. Laki-laki adalah Diri (<em>self</em>), perempuan adalah Liyan (<em>other</em>). Karena itu, perempuan ada dalam dunia laki-laki dengan istilah laki-laki.</p>
<p>Struktur bahasa <em>phallogosentris</em> ini, yang dianggap sebagai struktur dasar sebagian besar bahasa dunia Barat, berintikan konsep oposisi biner yang dikotomis dan hierarkis. Mempertentangkan dua konsep: laki-laki/perempuan, suami/istri, publik/privat, rasional/irrasional, baik/buruk, dan sebagainya, dengan kata yang disebut pertama, yang identik dengan laki-laki, dipandang lebih tinggi atau lebih baik dari kata kedua yang identik dengan perempuan. Sistem bahasa yang demikian jelas tidak berpihak pada perempuan.</p>
<p>Pertanyaan tentang nama orangtua/suami menggambarkan bagaimana ideologi patriarki direproduksi dengan medium bahasa lewat urusan yang bersifat administratif. Apa yang saya temui hari itu bisa dikatakan hanya satu contoh kecil. Sangat mungkin praktek serupa juga terjadi untuk urusan administrasi yang lain, bahkan juga diluar urusan administrasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/identitas/'>identitas</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/ideologi/'>ideologi</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/patriarki/'>patriarki</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/perempuan/'>perempuan</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/phallogosentris/'>phallogosentris</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/subyek/'>subyek</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=252&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/11/23/selembar-formulir-dan-perempuan-yang-tak-dianggap-subyek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kutukan Kudungga: Keserakahan Membawa Petaka</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/31/kutukan-kudungga-keserakahan-membawa-petaka/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/31/kutukan-kudungga-keserakahan-membawa-petaka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 16:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[butet kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[djaduk ferianto]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia kita]]></category>
		<category><![CDATA[kandang jurank doank]]></category>
		<category><![CDATA[kua etnika]]></category>
		<category><![CDATA[kutukan kudungga]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>
		<category><![CDATA[teater gandrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Mengangkat persoalan perusakan alam dalam balutan komedi satir, Butet Kartaredjasa bersama tim Indonesia Kita menggelar pentas Kutukan Kudungga, Raja Salah Raja Disembah pada 23 dan 24 September lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Mengambil setting Kalimantan, lakon yang disutradarai Djaduk Ferianto ini berangkat dari dongeng atau legenda di Kalimantan. Tak hanya menyuguhkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=249&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Mengangkat persoalan perusakan alam dalam balutan komedi satir, Butet Kartaredjasa bersama tim Indonesia Kita menggelar pentas Kutukan Kudungga, Raja Salah Raja Disembah pada 23 dan 24 September lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Mengambil <em>setting</em> Kalimantan, lakon yang disutradarai Djaduk Ferianto ini berangkat dari dongeng atau legenda di Kalimantan. Tak hanya menyuguhkan lakon teater, pentas ini juga menampilkan sejumlah penari dari Samarinda dan band metal dari Kalimantan, Kapital Band, serta anak-anak Kandang Joerank Doank.</p>
<p>Dari katalog pertunjukkan dijelaskan legenda atau dongeng Kutukan Raja Kudungga ini merupakan semacam peringatan bagi siapa pun agar tidak mengambil kekayaan alam yang ada di kerajaannya untuk kepentingan sendiri. Kisah yang menjadi inspirasi pentas kelima pertunjukkan Indonesia Kita ini dipadu dengan lakon Dhemit yang pernah ditulis almarhum Heru Kesawa Murti untuk Teater Gandrik. Agus Noor melanjutkan penulisan naskah setelah Heru Kesawa Murti meninggal dunia ketika proses persiapan pertunjukkan ini dimulai.</p>
<p>Dikisahkan sekelompok dhemit merasa cemas karena terusik ulah manusia yang seenaknya mengeksploitasi hutan tempat mereka tinggal. Para dhemit itu merasa terancam dan tergusur hingga kemudian mengadu kepada roh leluhur. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan bahwa zaman telah berubah, dimana orang-orang yang salah justru paling lantang bicara tentang kebenaran, zaman ketika para pemimpin yang salah justru disembah.</p>
<p>Disisi lain dikisahkan pula Marwoto, seorang pekerja CV Babat Alas, merasa resah atas proyek pembabatan dan penambangan hutan yang dilakukan perusahaannya. Namun sebagai bawahan, ia tak dapat berbuat banyak, terlebih si bos pemilik perusahaan, Susilo, yang berambisi mengeruk kekayaan bumi Kalimantan, tak mau tahu. Keresahannya semakin menjadi ketika ia merasa diganggu oleh para dedemit, bahkan ia sempat bertengkar dengan sang istri dan harus kehilangan anak karena diculik para dhemit.</p>
<p>Puncaknya Marwoto memutuskan berhenti dari proyek tersebut. Sedang Susilo yang kadung serakah dan tak percaya hal-hal mistis tetap bertekad meneruskan proyek pembabatan dan penambangan hutan bersama asistennya. Mereka tak menghiraukan peringatan Marwoto dan membawa pergi kekayaan alam Kalimantan yang telah dikeruk hingga akhirnya tertimpa kutukan.</p>
<p>Dengan gaya khas teater Gandrik yang penuh guyonan dan plesetan yang mengundang tawa, sindiran dan kritik mengalir dari dialog para pemain. Percakapan para dhemit yang marah atas ulah manusia yang merusak hutan dengan mulus berbaur dengan sindiran terhadap partai politik, pemerintah, dan situasi sosial politik aktual. Begitu juga dengan percakapan antara Marwoto dengan Susilo dan asistennya. Berbagai persoalan dan isu politik yang sedang menjadi sorotan, mereka olah menjadi bahan sindiran yang bisa memerahkan telinga sekaligus mengundang tawa.</p>
<p>Lakon ini juga diselingi sejumlah tarian khas Kalimantan seperti tari Enggang yang dibawakan oleh para penari dari Samarinda. Selain itu band anak muda Kalimantan Timur yang beraliran metal, Kapital Band juga ikut menggebrak panggung dengan lagu-lagu mereka. Sementara urusan musik dalam pementasan ini digarap oleh Djaduk Ferianto bersama kelompok musik yang dipimpinnya, Kua Etnika.</p>
<p>Pentas juga dimeriahkan oleh penampilan anak-anak Kandang Jurank Doank asuhan Dik Doank yang menyanyikan sejumlah lagu ciptaan Dik Doank dengan iringan permainan musik dari Perkusi Kalenk Rombenk. Musik yang riang dengan lirik lagu yang ‘nakal’ dan cerdas ditingkah penampilan anak-anak yang ceria, membuat penampilan mereka memberi kesan tersendiri. Tak hanya bernyanyi bersama anak asuhnya, Dik Doank juga ikut menyumbangkan suara bersama bank Alakadar.</p>
<p>Meski pementasan ini dipenuhi dengan kritik segar yang mengundang tawa, namun untuk <em>ending</em>, Djaduk tampak memilih untuk memberi keleluasaan pada penonton. Kutukan yang menimpa Susilo dan asistennya tidak diwujudkan secara nyata. Sehingga kutukan itu terlihat sebagai sebuah bentuk peringatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/butet-kartaredjasa/'>butet kartaredjasa</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/djaduk-ferianto/'>djaduk ferianto</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/indonesia-kita/'>indonesia kita</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kandang-jurank-doank/'>kandang jurank doank</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kua-etnika/'>kua etnika</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kutukan-kudungga/'>kutukan kudungga</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/teater/'>teater</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/teater-gandrik/'>teater gandrik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=249&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/31/kutukan-kudungga-keserakahan-membawa-petaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Balawan dan Maestro Gamelan Bali</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/27/kolaborasi-balawan-dan-maestro-gamelan-bali/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/27/kolaborasi-balawan-dan-maestro-gamelan-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 15:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[balawan maestro gamelan project]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan bali]]></category>
		<category><![CDATA[gedung kesenian jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[i wayan balawan]]></category>
		<category><![CDATA[konser musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Gitaris berdarah Bali, Balawan, bersama para maestro gamelan Bali yang tergabung dalam Balawan Maestro Gamelan Project menggelar konser perdana pada 24 September lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Sebuah kolaborasi yang digagas untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara individual ini menjadi bagian dari rangkaian acara bertajuk Gedung Kesenian Jakarta Internasional Festival 2011. Personel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=246&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Gitaris berdarah Bali, Balawan, bersama para maestro gamelan Bali yang tergabung dalam Balawan Maestro Gamelan Project menggelar konser perdana pada 24 September lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Sebuah kolaborasi yang digagas untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara individual ini menjadi bagian dari rangkaian acara bertajuk Gedung Kesenian Jakarta Internasional Festival 2011.</p>
<p>Personel Maestro Gamelan Project ini terdiri dari I Made Subandi dan I Ketut Lanus yang memainkan gangsa, rindik, dan kendang perkusi. Lalu I Nyoman Suarsana pada kendang dan suling, serta I Wayan Sudarsana pada suling, cengceng, dan genggong. Ditambah oleh Ketut Tarmadi pada bass dan I Wayan Balawan pada gitar dan synth.</p>
<p>Para maestro gamelan ini menguasai lebih dari satu alat musik, mereka piawai memainkan dua hingga tiga alat musik, itu sebabnya mereka disebut sebagai maestro, demikian Balawan menjelaskan pada penonton. Meskipun hanya berenam, namun penampilan mereka malam itu tetap menawan dengan musik yang dihasilkan layaknya kelompok gamelan dengan belasan awak.</p>
<p>Mengawali pertunjukkan dengan masing-masing pemain gamelan memainkan alat musik mereka. Disusul dengan kemunculan Balawan ke atas panggung dan sebuah lagu berjudul “Biarkan Saja” membuka penampilan mereka malam itu. Gamelan Bali yang rancak berpadu dengan suara gitar dan bass menghasilkan harmoni musik yang enak di telinga. Sebuah sajian jazz fusion yang kental dengan nuansa etnik yang memikat.</p>
<p>Disetiap jeda lagu Balawan selalu membuka percakapan dengan penonton. Banyak hal yang diperbincangkan. Bahkan di salah satu sesi ia sempat memberi kesempatan bagi penonton untuk bertanya. Namun, karena tak ada yang mengajukan pertanyaan, Balawan pun kembali berbagi cerita.</p>
<p>Proyek yang digagas Balawan ini berangkat dari keinginan untuk mengeksplorasi musik tradisional khususnya gamelan Bali, yang sesungguhnya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, namun sayangnya sejauh ini justru lebih banyak dikenal di luar negeri. Selain itu, Balawan juga ingin menunjukkan kebanggaannya terhadap gamelan Bali. Kolaborasi yang dilakukannya juga merupakan upaya untuk menarik minat anak muda agar mau mengenal gamelan.</p>
<p>Proyek ini juga bertujuan untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara personal kepada publik. Selama ini mereka lebih banyak bermain bersama sanggar tempat mereka bernaung dan justru lebih sering tampil dalam pentas-pentas kesenian di luar negeri.</p>
<p>Pada pertunjukkan malam itu Balawan juga mengenalkan dan mejelaskan alat musik yang dimainkan satu persatu kepada penonton. Ia juga meminta masing-masing personel untuk menunjukkan teknik memainkan alat musik tersebut. Seperti gangsa (baca: gangse), yang bisa dimainkan sendiri atau berdua, dengan bilah-bilah logamnya harus diganti terlebih dahulu. Atau genggong yang memiliki suara yang unik.</p>
<p>Balawan, yang dikenal dengan teknik permainan gitar <em>tapping technique</em> atau <em>touch technique</em> dengan menggunakan 8 jari yang menyerupai piano ini, juga sempat mengaku kalau ia lebih senang memainkan gitar dengan satu leher dibandingkan dengan dua leher, karena lebih berat, meski penggemarnya lebih suka melihatnya beratraksi dengan gitar leher ganda. Balawan pun mempertontonkan bagaimana dengan menggunakan gitar dua leher, ia bisa memainkan banyak nada sekaligus.</p>
<p>Selain “Biarkan Saja”, malam itu sejumlah lagu mereka mainkan, seperti “Belajar Menari”, “Ririmemeri”, dan lagu anak-anak Bali, “Made Cenik”. Juga sebuah lagu berjudul “Kotekan” yang terdengar menarik. Balawan sempat bercerita bahwa menciptakan lagu tanpa lirik tidaklah mudah, mengingat hanya dengan musik mereka mengajak pendengar untuk bisa masuk dalam lagu yang diciptakan.</p>
<p>Seperti pada lagu berjudul “What’s Left Now in Our Land”. Menurut Balawan, lagu ini menggambarkan kegelisahan Balawan atas kondisi Bali saat ini, dimana seakan sudah tidak ada yang tersisa, bahkan sawah-sawah sudah berganti menjadi vila. Tak ketinggalan sebuah lagu berjudul “Jayaprana” juga dinyanyikan Balawan malam itu. Lagu ini biasa dinyanyikan Balawan bersama kelompoknya Batuan Ethnic Fusion.</p>
<p>Dalam konsernya malam itu, Balawan juga sempat mengajak penonton untuk menyaksikan sebuah film pendek yang kebetulan dibikin oleh adik iparnya, Agung Bayu Pramana dengan judul “Patung Berjiwa”. Film ini tidak bersuara, sehingga selama diputar, Balawan mengisi musik <em>background</em>-nya secara <em>live</em>.</p>
<p>Pertunjukkan yang memikat dan sebuah &#8216;project&#8217; yang layak didukung. Balawan Maestro Gamelan Project membuktikan lewat ‘kemasan’ yang tepat, musik tradisional tetap menarik untuk dinikmati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/balawan-maestro-gamelan-project/'>balawan maestro gamelan project</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gamelan-bali/'>gamelan bali</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gedung-kesenian-jakarta/'>gedung kesenian jakarta</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/i-wayan-balawan/'>i wayan balawan</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/konser-musik/'>konser musik</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=246&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/27/kolaborasi-balawan-dan-maestro-gamelan-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konser Lima Tahun Big Band Salamander</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/25/konser-lima-tahun-big-band-salamander/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/25/konser-lima-tahun-big-band-salamander/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 14:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[big band]]></category>
		<category><![CDATA[goethehaus]]></category>
		<category><![CDATA[konser musik]]></category>
		<category><![CDATA[salamander big band]]></category>
		<category><![CDATA[swing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Menandai usia lima tahun, group big band asal Bandung, Salamander Big Band menggelar konser Kamis, 22 September 2011 di Goethe Haus. Tampil penuh totalitas, Salamander menyajikan belasan lagu jazz. Konser malam itu menghadirkan konduktor tamu, Dieter Mack, seorang komponis dari Jerman dan Margie Segers, penyanyi jazz senior bersuara emas. Konser dibuka dengan lagu berjudul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=242&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Menandai usia lima tahun, group big band asal Bandung, Salamander Big Band menggelar konser Kamis, 22 September 2011 di Goethe Haus. Tampil penuh totalitas, Salamander menyajikan belasan lagu jazz. Konser malam itu menghadirkan konduktor tamu, Dieter Mack, seorang komponis dari Jerman dan Margie Segers, penyanyi jazz senior bersuara emas.</p>
<p>Konser dibuka dengan lagu berjudul <em>Mixolydian Highlander</em>. Setelah sepatah dua patah kata sambutan yang menjadi pembuka konser oleh perwakilan Goethe Institute yang ikut mendukung konser ini dan sedikit kalimat pembuka dari Dieter Mack, sebuah lagu berjudul <em>Autum Nocturno</em> dan <em>Just Like That</em> menyusul kemudian.</p>
<p>Panggung malam itu dipenuhi warna putih karena semua personil Salamander, termasuk Mack, mengenakan kemeja putih. Meskipun setting panggung terlihat sangat sederhana, namun tidak demikian dengan penampilan Salamander yang mempesona sejak lagu pertama. Sisi kanan panggung ditempati oleh barisan pemain <em>brass</em>, yakni 4 pemain saksofon, 4 pemain trombon, dan 5 pemain trompet yang duduk berjajar dalam tiga baris. Sementara di sisi kiri panggung terdapat pemain <em>rhythm</em>, seperti piano, bass, drum, gitar, dan perkusi. Dieter Mack tampil penuh energi, tangannya bergerak penuh semangat memberi aba-aba, sementara kakinya mengikuti ketukan irama lagu.</p>
<p>Setelah beberapa nomor instrumentalia, Salamander menampilkan lagu dengan vokal, diawali oleh Gail Satiawaki dengan vokalnya yang keren membawakan <em>Cry Me A River</em> ciptaan Michael Buble dengan apik. Dan dilanjutkan Nenden Syntawati yang membawakan <em>Deedles Blues</em> dengan vokalnya yang powerful hingga mengundang tepuk tangan penonton. Sementara Imelda Rosalin menyanyikan sebuah nomor manis, <em>The Nearnes of You</em> sambil memainkan pianonya. Suaranya yang lembut terdengar menghanyutkan.</p>
<p>Pada konser malam itu, Salamander juga memainkan sebuah lagu baru berjudul <em>Sunda Jive</em>. Lagu ini khusus diciptakan Dieter Mack untuk konser Salamander malam itu. Menurut Mack, ia menciptakan lagu itu tiga bulan sebelum konser dan disesuaikan dengan kepribadian Salamander. Sesuai dengan judulnya, nuansa musik sunda dengan nada-nada pentatonis terasa dalam lagu <em>Sunda Jive</em>.</p>
<p>Setelah jeda sekitar 15 menit konser berlanjut. Sebuah komposisi berjudul <em>Koko</em> membuka sesi kedua konser dan disusul dengan <em>Georgia on My Mind</em>. Nenden kembali tampil diatas panggung membawakan lagu berjudul <em>Smile</em> dan kembali mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Disusul penampilan memikat Gail yang menyanyikan <em>You’re Nobody Till Somebody Loves You</em>.</p>
<p>Selanjutnya, giliran Margie Segers tampil ke atas panggung dengan membawakan tiga lagu. Mengawali penampilannya dengan membawakan sebuah lagu yang dipopulerkan Norah Jones, <em>Don’t Know Why</em>, disusul Satin Doll, dan <em>Can’t Take My Eyes Off of You</em>. Penampilan Margie selalu menawan dengan kualitas vokal yang tetap terjaga. Margie mengatakan penampilannya bersama Salamander malam itu adalah kali kesekian. Ia dan Salamander pernah tampil bersama dalam sejumlah kesempatan. Sehingga ia berharap bisa punya kesempatan untuk kembali tampil bersama Salamander.</p>
<p>Sebuah nomor instrument menutup penampilan mereka malam itu. Tepuk tangan penonton tetap terdengar meski seluruh personil Salamander telah meninggalkan panggung. Keinginan penonton terpenuhi ketika satu persatu personil Salamander kembali ke atas panggung. Nenden Syntawati mengakhiri penampilan Salamander malam itu dengan vokalnya yang apik.</p>
<p>Malam itu Salamander Big Band berhasil membagi kebahagiaan dengan para penikmat jazz, dan menunjukkan bahwa swing selalu asik untuk dinikmati. Selamat ulang tahun! Saya berharap tahun-tahun mendatang masih bisa menikmati konser-konser Salamander.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/big-band/'>big band</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/goethehaus/'>goethehaus</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/konser-musik/'>konser musik</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/salamander-big-band/'>salamander big band</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/swing/'>swing</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=242&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/10/25/konser-lima-tahun-big-band-salamander/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serambi Jazz: Chamber Jazz dan Glen Dauna Project</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/serambi-jazz-chamber-jazz-dan-glen-dauna-project/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/serambi-jazz-chamber-jazz-dan-glen-dauna-project/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 17:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[chamber jazz]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan jawa]]></category>
		<category><![CDATA[gitar akustik]]></category>
		<category><![CDATA[glen dauna project]]></category>
		<category><![CDATA[goethehaus]]></category>
		<category><![CDATA[serambi jazz]]></category>
		<category><![CDATA[tembang jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal yang saya suka dari Serambi Jazz adalah even ini memberikan sajian menarik di tiap pentasnya, selain tentu saja karena even ini gratis, hehehe. Thank to Goethe Institut then. Seperti Agustus lalu, even yang digelar dua bulan sekali ini menampilkan group jazz yang bisa dibilang unik, Chamber Jazz dan Glen Dauna Project. Chamber Jazz [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=238&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hal yang saya suka dari Serambi Jazz adalah even ini memberikan sajian menarik di tiap pentasnya, selain tentu saja karena even ini gratis, hehehe. Thank to Goethe Institut then. Seperti Agustus lalu, even yang digelar dua bulan sekali ini menampilkan group jazz yang bisa dibilang unik, Chamber Jazz dan Glen Dauna Project.</p>
<p>Chamber Jazz yang dikomandani oleh Iwan Hasan ini terdiri dari empat musisi, yakni Iwan Hasan (gitar/vokal), Andien (vokal), Enggar Widodo (tuba,trombon), dan Andi Gomez (piano). Ketiadaan bass awalnya membuat saya tak terlalu antusias, namun diluar dugaan, kehadiran tuba yang menggantikan fungsi bass sekaligus drum, memberi warna tersendiri. Selain secara keseluruhan Chamber Jazz merupakan paduan yang unik.</p>
<p>Membuka penampilan dengan nomor berjudul <em>Is You Is Or Is You Ain’t My Baby</em>, dan disusul dengan <em>For This Love</em>, sebuah nomor favorit Andien, saya mulai menikmati permainan mereka. Andien mengungkapkan lagu yang kedua ini dulu biasa dinyanyikan Andien saat berkolaborasi dengan Discuss, band progressif yang digawangi Iwan Hasan. Kebersamaan Iwan dan Andien tersebut kemudian berlanjut dalam kolaborasi Chamber Jazz.</p>
<p>Dalam lagu <em>Dat Dere</em>, Andien dan Iwan mampu membawa suasana segar lewat interaksi mereka. Seperti lirik lagu tersebut, Andien berlagak seolah anak kecil yang merengek minta ini itu pada ayahnya. Iwan yang berperan sebagai sang ayah pun sigap menimpali. Andien sempat mengundang tawa penonton ketika merengek minta memainkan tuba pada Iwan, namun kemudian mengurungkan niatnya dengan berkomentar, <em>”well, I don’t wanna as ’dower’ as you”</em>, saat melihat Enggar yang serius meniup tuba. Juga ketika Andien meminta kamera yang dipakai penonton di deret kursi paling depan.</p>
<p>Di lagu <em>Javanese Suite</em>, yang merupakan medley tembang-tembang jawa, Chamber Jazz menghadirkan nuansa berbeda yang sungguh memikat. Pada lagu keempat ini Iwan menggunakan gitar akustik khusus yang petikannya menghasilkan bunyi dengung gamelan Jawa sebagai intro yang disusul dengan suara Andien melantunkan tembang berbahasa Jawa Tak Lelo Lelo Lelo Ledung, sebuah lagu nina bobo ala Jawa. Disambung dengan Padang Bulan dan Cublak-Cublak Suweng, lagu permainan anak-anak. Di bagian ini Iwan banyak berimprovisasi dengan gitarnya, selain suara gemelan, suara ketukan ia hasilkan dengan memukul-mukul <em>body</em> gitarnya.</p>
<p>Usai lagu keempat Andien dan Andy Gomez meninggalkan panggung, lalu Iwan dan Enggar berduet membawakan <em>Blue Bossa</em>. Iwan mengganti gitar akustiknya sementara Enggar memainkan trombon. Duet ini menyajikan penampilan yang menarik yang diakhiri dengan permainan solo Enggar. Di lagu ini Enggar menunjukkan kepiawaiannya bermain trombon. Ia bahkan meniup trombon sambil mempreteli alat musik itu satu persatu dan kemudian memasangnya kembali serta menutup aksinya dengan penggalan salah satu hits Deep Purple, <em>Smoke on The Water</em>. Tepuk tangan penonton pun memenuhi ruangan usai ’atraksi’ yang ditampilkan Enggar.</p>
<p>Personel yang lain kemudian kembali ke panggung dan mereka melanjutkan penampilan dengan membawakan <em>My Favorite Things</em>. Disambung dengan <em>HoneySuckle Rose</em> yang menutup penampilan mereka.</p>
<p>Disesi kedua tampil Glen Dauna Project, yang digawangi Glen Dauna, yang dikenal sebagai pianis Twilight Orchestra. Glen Dauna Project ini juga melibatkan dua orang anaknya yakni Indra Artie Dauna pada trumpet dan Rega Dauna pada harmonika. Formasi lengkap Glen Dauna ditambah kehadiran Joshua Arifin (double bass), Dezca Anugrah Samudra (drum), dan Ajierao Ramdhan (perkusi). Untuk penampilan di Goethe Haus malam itu mereka menghadirkan bintang tamu Jeffrey Tahalele.</p>
<p>Komposisi ciptaan Glen Dauna berjudul <em>Something</em> mengawali penampilan mereka. Diawali tiupan trompet Indra, disusul denting piano, petikan bass dan ketukan dram, nomor pembuka ini menyemarakkan panggung. Disusul komposisi lain berjudul <em>Who Is This</em> yang juga merupakan karya Glen Dauna.</p>
<p>Pada lagu ketiga, yang berjudul <em>She</em>, Rega ikut bergabung dengan memainkan harmonika, dan Jeffrey Tahalele masuk sebagai bintang tamu dengan memainkan akustik bass-nya. Sebuah komposisi yang keren. Disambung dengan <em>Midnight</em>, yang memiliki tempo lebih lambat dibanding beberapa komposisi Glen Dauna sebelumnya. Glen Dauna Project ini memang memilih memainkan jazz komposisi orisinil mereka, yang diciptakan Glen Dauna.</p>
<p>Pada lagu kelima mereka memainkan <em>I’ve Grown Accoustume To Her Face</em>, sebuah nomor jazz yang diambil dari musikal <em>My Fair Lady</em>. Meskipun Rega ini masih terhitung belasan tahun, namun permainan harmonikanya boleh juga. Nomor berjudul <em>I Don’t Know</em> menjadi penutup penampilan mereka malam itu dan sebuah nomor tambahan sebagai bonus bagi penonton.</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/chamber-jazz/'>chamber jazz</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gamelan-jawa/'>gamelan jawa</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gitar-akustik/'>gitar akustik</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/glen-dauna-project/'>glen dauna project</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/goethehaus/'>goethehaus</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/serambi-jazz/'>serambi jazz</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/tembang-jawa/'>tembang jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=238&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/serambi-jazz-chamber-jazz-dan-glen-dauna-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menelusur Akar Budaya Nusantara Lewat Mak Jogi</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/menelusur-akar-budaya-nusantara-lewat-mak-jogi/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/menelusur-akar-budaya-nusantara-lewat-mak-jogi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 16:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[budaya melayu]]></category>
		<category><![CDATA[gurindam]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia kita]]></category>
		<category><![CDATA[joget]]></category>
		<category><![CDATA[mak jogi]]></category>
		<category><![CDATA[mak yong]]></category>
		<category><![CDATA[pantun]]></category>
		<category><![CDATA[rentak zapin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Budaya Melayu yang menjadi akar budaya nusantara menjadi tema pokok yang diangkat Indonesia Kita edisi keempat. Lewat kisah Mak Jogi, penonton diajak melihat kembali kearifan dan kebijakan hidup yang terbungkus dalam hikayat, pantun maupun gurindam dan berpadu padan dalam dendang nyanyian dan gerak tarian. Pertunjukan ini juga mengajak penonton menelusuri kekayaan dan keragaman budaya melayu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=235&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya Melayu yang menjadi akar budaya nusantara menjadi tema pokok yang diangkat Indonesia Kita edisi keempat. Lewat kisah Mak Jogi, penonton diajak melihat kembali kearifan dan kebijakan hidup yang terbungkus dalam hikayat, pantun maupun gurindam dan berpadu padan dalam dendang nyanyian dan gerak tarian. Pertunjukan ini juga mengajak penonton menelusuri kekayaan dan keragaman budaya melayu.</p>
<p>Dalam program Indonesia kita kali ini, penari dan koreografer Tom Ibnur terlibat sebagai salah satu tim kreatif sekaligus berperan sebagai tokoh sentral, Mak Jogi. Pentas yang digelar akhir Juli lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki ini disutradarai Djaduk Ferianto, sementara penataan musiknya dipercayakan pada Yaser Arafat, yang dikenal lewat Malacca Ensemble-nya.</p>
<p>Dibuka oleh tari sekapur sirih, yang diambil dari gerakan Melayu lama dalam rentak irama asli, mengalirlah kisah Mak Jogi, yang dituturkan oleh tukang cerita Agus PM Toh a k a Agus Nur Amal, pendongeng asal Aceh itu. Kali ini ia ditemani seorang asisten yang diperankan salah satu anggota Trio GAM, Gareng Rakasiwi, group komedian dari Yogyakarta.</p>
<p>Alkisah di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang perempuan, sang raja dirundung gelisah akibat mimpi yang datang berulangkali. Ia melihat seberkas cahaya yang sangat terang turun di atas kerajaannya. Raja pun memanggil orang-orang kepercayaannya, mulai dari penasehat raja, penyair kerajaan, hang panglima, dan hang dagang, serta awang pengasuhnya untuk menafsirkan mimpinya.</p>
<p>Dari semua nasehat yang diberikan, sang raja memilih untuk mengikuti nasehat awang pengasuhnya yang berpendapat mimpi sang raja merupakan petunjuk agar raja mencari air tujuh muara. Air pertama ada di kerajaan sang Baginda, sementara enam jenis air lainnya akan ditemukan di tempat-tempat lain di nusantara. Maka raja menunjuk sejumlah penasehatnya untuk menjalankan misi tersebut. Awang pengasuh meminta raja untuk menyertakan Mak Jogi, seorang penari kerajaan yang mampu menarikan bermacam tarian, dalam misi tersebut karena menurutnya Mak Jogilah yang akan membantu keberhasilan pencarian air tujuh muara tersebut lewat kepiawaiannya dalam menari.</p>
<p>Maka mulailah tim kecil yang terdiri dari Hang Panglima, Hang Dagang, Mak Jogi dan asistennya Bujang melakukan ekspedisi pencarian air tujuh muara. Setiap kali mereka menginjakkan kaki ke suatu daerah, mereka disambut dengan tarian setempat. Disinilah Mak Jogi mengambil peran penting dengan membuktikan kecakapannya sebagai penari. Selain bisa mempelajari gerak tari setempat dalam waktu singkat, ia juga mampu menampilkan tari-tarian yang memikat penduduk setempat. Sehingga ia diizinkan mendapatkan air dari daerah tersebut.</p>
<p>Meskipun dalam kisah tersebut, Mak Jogi dan rombongan hanya singgah di daerah Minangkabau, Dieng, dan Kalimantan, namun di panggung juga ditampilkan beberapa properti yang menjadi simbol khas yang merepresentasikan budaya/wilayah tertentu seperti betawi dan papua. Karena memang budaya Melayu merambah sejumlah wilayah di nusantara.</p>
<p>Tokoh Mak Jogi ini diambil dari sebutan Mak Joget. Dalam katalog pertunjukkan disebutkan, Mak Jogi merupakan tokoh perempuan dalam cerita-cerita Melayu yang biasanya ditampilkan melalui musik dan tari. Biasanya tokoh ini diperankan oleh laki-laki. Mak Joget biasanya ditampilkan punya karakter yang jenaka untuk menyambung cerita dari adegan ke adegan yang lain. Atau untuk memberikan semangat agar para pengunjung dapat turut meramaikan perhelatan.</p>
<p>Tom Ibnur yang berperan sebagai Mak Jogi dapat membawakan karakter ini dengan sangat luwes. Tak kalah menarik penampilan Didik Nini Towok yang berperan sebagai Nyi Towok, penjaga Candi Dieng. Selain menampilkan dua penari sekaligus koreografer ternama tersebut, koreografi pertunjukkan ini digarap oleh kolaborasi antara Tom Ibnur dan Hartati yang menyajikan tari tradisi dan menampilkan banyak rentak tradisional Melayu. Diambil mulai dari yang klasik seperti Mak Yong, tari pergaulan atau Tari Jogi, rentak-rentak asli Mainang dua atau Joget, serta rentak Zapin.</p>
<p>Tari-tarian tersebut tampil menyatu dan menjadi bagian dari cerita. Dalam balutan busana dengan warna-warna cerah dan dibantu dengan tata pencahayaan yang baik, gerak tarian yang dibawakan para penari tersebut taampil mempesona.</p>
<p>Selain menyuguhkan beragam tarian yang memikat, unsur penting lain yang juga menjadi kekuatan cerita Mak Jogi adalah musik. Di tangan Yaser Arafat, musik Melayu yang menjadi unsur utama pertunjukkan ini berpadu dengan musik Minangkabau. Pada musik Melayu bunyi-bunyian didominasi oleh alat-alat musik seperti akordion, biola, dan gong. Sedang musik Minangkabau kental dengan bunyi seruling. Nuansa modern terasa lewat kehadiran alat musik standar seperti gitar bass atau synthesizer.</p>
<p>Pemain biola Hendri Lamiri juga ikut terlibat, bahkan pada lagu Hang Tuah, ia tampil solo dengan naik ke atas panggung. Beberapa lagu dalam pertunjukkan ini mempertahankan aransemen lamanya, semisal lagu Selendang Delima yang dimainkan di awal sebagai pembuka pertunjukkan, seperti dijelaskan Yaser dalam katalog pertunjukkan. Selain lagu-lagu legendaris, lagu populer seperti Laksamana Raja di Laut juga turut dimainkan.</p>
<p>Adegan berbalas pantun dan gurindam yang menjadi ciri khas budaya Melayu juga mewarnai pentas malam itu. Kadang adegan berbalas pantun ini mengundang tawa penonton karena pantun yang diciptakan secara spontan itu kadang terkesan memaksa. Meskipun seringkali juga mendatangkan applaus penonton terutama saat pantun yang tercipta terdengar cerdas dan mengena.</p>
<p>Lewat pantun, syair, dan dialog para pemain, terselip sentilan-sentilan politik dan sindiran atas isu aktual, yang tentu saja mengundang tawa penonton. Pada pertunjukkan ini tampil juga bintang tamu Effendi Gazali, yang berperan sebagai penasehat raja dan banyak melontarkan sindiran-sindiran politik. Selain itu kehadiran Trio GAM, dengan Gareng Rakasiwi sebagai asisten tukang cerita, Joned sebagai Hang Dagang, dan Wisben yang menjadi pertapa, mampu mengundang tawa penonton lewat dagelan dan kelucuan yang mereka hadirkan. Tak ketinggalan Udin Semekot yang berperan sebagai Bujang dan Agus PM Toh, si tukang cerita yang aksinya sering membikin penonton tertawa.</p>
<p>Secara keseluruhan, Mak Jogi merupakan tontonan yang menarik. Sejauh ini dari empat program Indonesia Kita, kecuali Laskar Dagelan yang tak bisa saya tonton karena kehabisan tiket, Mak Jogi menjadi pertunjukkan yang paling bagus. Cerita yang menarik berpadu padan dengan tari-tarian indah dan musik apik, ditambah tata artistik yang bagus, (baik penataan busana, pencahayaan, maupun setting panggung), lawakan yang segar dan porsi permainan yang pas dari para pemain menjadikan tontonan ini begitu memikat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/budaya-melayu/'>budaya melayu</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gurindam/'>gurindam</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/indonesia-kita/'>indonesia kita</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/joget/'>joget</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/mak-jogi/'>mak jogi</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/mak-yong/'>mak yong</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/pantun/'>pantun</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/rentak-zapin/'>rentak zapin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=235&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/menelusur-akar-budaya-nusantara-lewat-mak-jogi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kartolo yang Mbalelo</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/kartolo-yang-mbalelo/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/kartolo-yang-mbalelo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 16:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia kita]]></category>
		<category><![CDATA[kartolo]]></category>
		<category><![CDATA[kartolo mbalelo]]></category>
		<category><![CDATA[kua etnika]]></category>
		<category><![CDATA[ludruk]]></category>
		<category><![CDATA[sujiwo tejo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Menyaksikan Pertunjukkan Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo adalah menyaksikan cerita keseharian berbalut carut marut kondisi sosial politik dalam panggung yang lain. Selain tentu saja menyaksikan bagaimana kesenian tradisional dari Jawa Timur ini berpadu padan dengan kesenian modern. Dan sebagaimana halnya ludruk yang penuh dengan banyolan yang lugu, cerdas, dan menggelitik, maka sepanjang 2,5 jam pertunjukkan itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=233&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyaksikan Pertunjukkan Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo adalah menyaksikan cerita keseharian berbalut carut marut kondisi sosial politik dalam panggung yang lain. Selain tentu saja menyaksikan bagaimana kesenian tradisional dari Jawa Timur ini berpadu padan dengan kesenian modern. Dan sebagaimana halnya ludruk yang penuh dengan banyolan yang lugu, cerdas, dan menggelitik, maka sepanjang 2,5 jam pertunjukkan itu gelak tawa penonton hampir tak berhenti terdengar.</p>
<p>Pertunjukkan yang digagas Indonesia Kita ini digelar di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki awal Juli lalu. Di tangan sutradara Sujiwo Tejo dan tim kreatif Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto, ludrukan Kartolo Mbalelo dikemas dengan sentuhan modern yang memberi nuansa berbeda meski tak meninggalkan ruhnya.</p>
<p>Bercerita tentang Kartolo, seniman ludruk ternama dari Jawa Timur yang jujur yang suatu hari diajak Sapari, sahabatnya, bermain ludruk atas undangan sebuah parpol. Kartolo yang tak suka politik awalnya menolak, namun kemudian menyanggupi atas desakan Yu Ning, istrinya. Usai menyaksikan Kartolo, Cak Lontong, politisi ternama yang sudah lama menjadi penggemar Kartolo berniat menggaet Kartolo ke dunia politik dengan menawarinya jabatan sebagai petinggi partai.</p>
<p>Kartolo yang pada dasarnya tak suka politik jelas menolak tawaran tersebut. Jabatan sebagai bendahara partai hingga calon pasangan Cak Lontong untuk pemilihan presiden periode mendatang sama sekali tak menarik minatnya. Maka Cak Lontong pun menggunakan berbagai cara agar Kartolo mengiyakan tawarannya. Dari mulai menyuruh Inul Daratista, sang biduan dangdut untuk merayu hingga membujuk Sapari untuk mempengaruhi Kartolo. Namun semua itu tak mempan. Keputusan Kartolo membuat Yu Ning marah, bahkan ia mengancam akan meninggalkannya.</p>
<p>Penolakan Kartolo atas tawaran jabatan empuk dari petinggi partai besar dan keputusannya untuk memilih menjadi orang biasa inilah yang kemudian membuat Kartolo disebut mbalelo.</p>
<p>Cerita yang sederhana sebenarnya, namun dimainkan dengan apik hingga membuatnya menjadi tontonan yang menarik. Mengingat judulnya musikal ludrukan, maka unsur musik dan lagu terasa kental dalam pertunjukkan ini. Seperti diungkapkan Sujiwo Tejo dalam katalog pertunjukkan bahwa yang akan ditampilkan adalah sebuah pertunjukkan musikal ala Broadway tapi tetap ndeso. KuaEtnika, kelompok musik pimpinan Djaduk Ferianto menjadi pendukung musik utama.</p>
<p>Sentuhan modern terlihat disana-sini, meskipun demikian pertunjukkan ini tetap mengikuti pakem ludruk. Tari remo tetap muncul sebagai pembuka, yang diikuti dengan parikan atau pantun oleh cak Kartolo dan cak Sapari. Dan tentu saja tak ketinggalan, penampilan para waria.</p>
<p>Pentas ini juga memadukan unsur kesenian lain. Seperti tampak pada adegan ketika Kartolo dan Yu Ning bertengkar karena sikap Kartolo yang tak mau terlibat politik, yang digambarkan dengan perkelahian antara arjuna dan buta cakil, yang biasanya ada dalam lakon wayang orang. Mungkin karena sutradara pertunjukkan ini Sujiwo Tejo yang juga dikenal sebagai seorang dalang, maka penggabungan dua unsur seni yang berbeda ini bisa terjadi. Namun yang pasti adegan ini terlihat menarik dan memberi warna lain.</p>
<p>Di panggung, arjuna dan buta cakil beradu fisik, sementara di balik panggung, Kartolo dan Yu Ning perang mulut. Hanya suara mereka berdua yang terdengar mengiringi pertarungan antara Arjuna yang diperankan penari perempuan dan mewakili sosok Kartolo dengan buta cakil yang diperankan penari laki-laki dan menyimbolkan diri Yu Ning.</p>
<p>Selain itu seperti pertunjukan-pertunjukan dalam program Indonesia kita sebelumnya yang memberi ruang bagi musik hiphop/rap/akapela, Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo juga menampilkan hal serupa. Kali ini Akapela Madura (Musik Mulut Madura), yang aslinya di Madura disebut Pojian, artinya pujian kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta keselamatan dan keberkahan. Dalam pertunjukan ini mereka menampilkan tiga lagu.</p>
<p>Bahkan tari Gandrung yang berasal dari Banyuwangi itu juga dimunculkan di atas panggung. Tak ketinggalan tari-tarian modern ala musikal Broadway yang gemerlap dan dibawakan oleh sejumlah waria. Lagu-lagu pop yang cukup akrab di telinga masyarakat semacam Denpasar Moon dan In The Arm of An Angel juga menghiasi pertunjukkan ini.</p>
<p>Termasuk lagu-lagu Sujiwo Tejo yang ditampilkan dengan aransemen baru dari KuaEtnika. Seperti lagu Pada Suatu Ketika yang dinyanyikan ketika Cak Kartolo bertapa dan Anyam-Anyaman Nyaman yang muncul di bagian akhir sebagai penutup ketika Cak Kartolo dan Yu Ning kembali rukun. Penampilan lagu-lagu Sujiwo Tejo ini buat saya menjadi semacam bonus, karena saya menyukai lagu-lagu Sujiwo Tejo.</p>
<p>Ada juga jurus-jurus silat yang dimainkan para pesilat dari Perguruan Silat Tiga Berantai. Adegan ini muncul ketika Cak Kartolo yang telah berubah menjadi Sakerah, bertarung dengan anak buah Cak Lontong yang tidak terima dengan sikap Kartolo.</p>
<p>Selain Inul Daratista dan Merlyn Sopjan, ratu waria Indonesia, Ludrukan Kartolo Mbalelo juga menampilkan bintang tamu Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Wakil Ketua DPR Pramono Anung yang menjadi diri mereka sendiri. Namun penampilan mereka berdua belum bisa melebur dengan pemain-pemain lain.</p>
<p>Cerita Kartolo Mbalelo ini sarat dengan kritik terhadap situasi sosial politk aktual. Satir politik yang menyentil muncul dalam dialog dan polah tingkah para pemain serta parikan atau pantun yang muncul diawal pertunjukkan. Bahkan lagu yang dinyanyikan Inul Daratista juga menjadi salah satu cara untuk melontarkan sentilan. Lagu berjudul Lupa yang sempat dipopulerkan band Kuburan diganti liriknya menjadi kritik terhadap para politisi yang mudah melupakan janjinya saat berkampanye.</p>
<p>Meskipun kisah ini memiliki warna politis yang kuat, namun seperti dipaparkan dalam katalog pertunjukkan, ternyata Cak Kartolo sebagai pemeran utama enggan berbicara politik, sehingga naskah pertunjukkan sempat mengalami perubahan beberapa kali. Dan di bagian akhir sikap mbalelo Kartolo diwujudkan dengan keputusannya untuk tak terlalu ambil pusing dengan persoalan politik. Sebaliknya, ia memilih untuk mengurus keluarga dan menjadi seniman saja.</p>
<p>Menurut Sujiwo Tejo, hal ini bukan suatu bentuk sikap apatis. Tapi sebuah usaha untuk menyebarkan semangat bahwa pembenahan di tingkat yang lebih tinggi baru akan berhasil jika masing-masing individu di suatu negeri terlebih dahulu membenahi dirinya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/indonesia-kita/'>indonesia kita</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kartolo/'>kartolo</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kartolo-mbalelo/'>kartolo mbalelo</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/kua-etnika/'>kua etnika</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/ludruk/'>ludruk</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/sujiwo-tejo/'>sujiwo tejo</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=233&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/kartolo-yang-mbalelo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Halo Dunia</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/halo-dunia/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/halo-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 16:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Kangen rasanya beberapa waktu tak bisa meng-update tulisan baru di blog. Bukan karena tak ada ide. Ada banyak acara seni yang saya lihat beberapa waktu terakhir, dan beberapa sudah saya tulis ulasannya, meski belum semua selesai. Diluar tulisan soal seni sebenarnya juga ada tulisan dengan tema lain. Tapi kondisi badan yang kurang fit beberapa waktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=225&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kangen rasanya beberapa waktu tak bisa meng-<em>update</em> tulisan baru di blog. Bukan karena tak ada ide. Ada banyak acara seni yang saya lihat beberapa waktu terakhir, dan beberapa sudah saya tulis ulasannya, meski belum semua selesai. Diluar tulisan soal seni sebenarnya juga ada tulisan dengan tema lain. Tapi kondisi badan yang kurang fit beberapa waktu terakhir membuat saya tak bisa berlama-lama di depan laptop. Prioritas masih untuk urusan kantor, di luar itu saya harus berdamai dengan kepala saya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <code>.</code></p>
<p>Sebenarnya bisa saja disiasati dengan mengetik lewat <em>handphone</em> (hp), yang notabene lebih ramah dibanding laptop untuk urusan radiasi. Dan saya sudah mencobanya, meski belum sepenuhnya mulus. Bagaimanapun beralih dari layar 14 inch ke layar mini hp dan keleluasaan berpindah-pindah jendela yang menjadi lebih terbatas, membutuhkan penyesuaian. Atau jangan-jangan ini hanya alasan saya saja ya, hehehe.</p>
<p>Karena itu mungkin ada beberapa tulisan saya yang dari segi aktualitas tidak bisa masuk kriteria. Meskipun demikian, tetap saja terselip keinginan di kepala saya untuk membuat tulisan tentang acara-acara seni yang pernah saya tonton tersebut. Terdengar sedikit memaksa ya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <code></code>. Well, bagi saya itu menjadi salah satu cara saya mengapresiasi karya seni yang dihasilkan para seniman.</p>
<p>Saya juga masih menyimpan keinginan tulisan-tulisan tentang kegiatan seni yang saya tulis ini bisa lebih berkembang, menjadi tulisan yang lebih memiliki bobot dan mendalam, tak sekadar paparan namun juga berupa ulasan yang memasukkan unsur data dan teori atau konsep. Bahasa kerennya mungkin semacam kritik seni begitu hehehe.</p>
<p>Tentu hal itu membutuhkan proses, untuk saat ini saya masih akan memposting tulisan-tulisan yang mungkin masih lebih banyak berupa paparan. Termasuk tulisan-tulisan yang dari segi waktu sudah tak terlalu aktual tadi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Namun saya rasa alasan ‘kengototan’ yang sudah saya kemukakan di atas bisa dipahami. Jadi, harap maklum saja lah ya jika anda, pembaca yang budiman <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , barangkali sudah pernah membaca tulisan serupa entah di koran atau majalah. Kalau ini bukan lagi tampak atau terdengar, tapi serius memaksa, hahaha….</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=225&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/09/28/halo-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sebuah harap</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/08/16/sebuah-harap/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/08/16/sebuah-harap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 16:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[inginku berumah di teduh samudera hatimu hingga gundah tak menyesak hariku pun sebaliknya harapku menjadi teman berbagi jiwamu di panjang dan tabah perjalananmu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=218&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>inginku<br />
berumah di teduh samudera hatimu<br />
hingga gundah tak menyesak hariku<br />
pun sebaliknya<br />
harapku<br />
menjadi teman berbagi jiwamu<br />
di panjang dan tabah perjalananmu </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=218&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/08/16/sebuah-harap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Strings Attached dari Shadow Puppets Quartet</title>
		<link>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/07/25/strings-attached-dari-shadow-puppets-quartet/</link>
		<comments>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/07/25/strings-attached-dari-shadow-puppets-quartet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 13:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anita dhewy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[gedung kesenian jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta anniversary festival]]></category>
		<category><![CDATA[konser musik]]></category>
		<category><![CDATA[shadow puppets quartet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anitadhewy.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah konser yang juga menandai peluncuran album kedua digelar Shadow Puppets Quartet (SPQ) pertengahan Juni lalu. Konser bertajuk “Strings Attached Concert Series” ini diambil dari judul album mereka, “String Attached”, yang sesuai namanya, maka dalam album ini mereka menggandeng empat musisi pendukung dalam format kuartet gesek. Konser yang menjadi bagian dari Jakarta Anniversary Festival yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=214&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah konser yang juga menandai peluncuran album kedua digelar Shadow Puppets Quartet (SPQ) pertengahan Juni lalu. Konser bertajuk “Strings Attached Concert Series” ini diambil dari judul album mereka, “String Attached”, yang sesuai namanya, maka dalam album ini mereka menggandeng empat musisi pendukung dalam format kuartet gesek.</p>
<p>Konser yang menjadi bagian dari Jakarta Anniversary Festival yang digelar Gedung Kesenian Jakarta ini sendiri terdiri dari dua sesi dengan format yang berbeda. Sesi pertama berupa <em>double quartet</em> (<em>jazz quartet &amp; strings quartet</em>) sedang di sesi kedua SPQ yang terdiri dari Irsa Destiwi (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (contrabass), dan Yusuf Shandy Satya (drum) ini tampil dalam format original mereka, yaitu sebagai <em>jazz quartet</em>.</p>
<p>Saat tampil dalam format <em>double quartet</em> di sesi pertama, SPQ memainkan empat kompisisi baru dari album kedua. Mereka dibantu oleh <em>String Quartet</em> yang terdiri dari Fafan Isfandiar pada Violin 1, Alvin Witarsa pada Violin 2, Yulianto Endarmawan pada Viola, dan Santoso Nurhairani pada Cello. Kolaborasi yang menawan yang membuat penonton terdiam, hanyut dalam alunan nada sepanjang permainan musik mereka dan langsung mengundang tepuk tangan begitu komposisi usai dimainkan.</p>
<p>Komposisi ciptaan Irsa, Three House yang bernuansa lembut dan manis membuka pertunjukkan. Usai nomor pembuka, Irsa yang menjadi juru bicara SPQ menyapa penonton dan berbincang sedikit perihal komposisi yang mereka mainkan. Lalu komposisi kedua yang ditulis Shandy Satya berjudul Our Own Little World mengalun, sebuah komposisi yang terdengar unik dan asik. Disusul Pulang, komposisi milik Indrawan. Ia menulis kompisisi ini ketika sedang bersekolah di Belanda dan merindukan kampung halamannya. Juwita, komposisi indah milik Robert menjadi penutup sesi pertama.</p>
<p>Semua komposisi dalam album String Attached yang dimainkan dalam format <em>double quartet</em> ini pernah dibawakan dan direkam secara <em>live</em> pada konser mereka di Birdcage Gastro Boutique Parlour, November tahun lalu. Rekaman ini yang kemudian diluncurkan malam itu sebagai album kedua. Sebuah langkah berani dari salah satu kelompok musik jazz dengan <em>skill</em> dan kemampuan mencipta komposisi yang baik, yang perlu diacungi jempol.</p>
<p>Di sesi kedua SPQ tampil dalam format orisinil mereka sebagai kuartet jazz. Errands to Run, kompisisi milik Irsa menjadi nomor pembuka. Komposisi ini diambil dari album pertama mereka, Extended Play, yang malam itu di <em>arrange</em> ulang. Disusul dengan Sushi &amp; Philosophy yang digubah Shandy. Sebuah nomor yang terasa dinamis dan terdengar menyenangkan. Komposisi lain milik Irsa berjudul 21-41 yang lembut menjadi nomor ketiga yang dimainkan. Irsa menjelaskan judul 21-41 tidak memiliki arti karena hanya merujuk pada waktu ketika komposisi ini selesai dibuat. Komposisi milik Robert berjudul Klangenfarben menutup sesi kedua sekaligus keseluruhan konser malam itu dengan indah.</p>
<p>Usai menerima karangan bunga dan piagam penghargaan dari Gedung Kesenian Jakarta, SPQ berpamitan. Namun penonton masih bertepuk tangan dan meminta tambahan lagu. Akhirnya mereka berempat kembali ke atas panggung, dan memainkan nomor tambahan. Komposisi milik Robert berjudul Yusuf Hamdani dari album pertama yang ditampilkan kembali dalam album kedua dengan aransemen baru menjadi pilihan mereka. Nomor ini benar-benar menutup konser mereka malam itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br /> Tagged: <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/gedung-kesenian-jakarta/'>gedung kesenian jakarta</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/jakarta-anniversary-festival/'>jakarta anniversary festival</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/konser-musik/'>konser musik</a>, <a href='http://anitadhewy.wordpress.com/tag/shadow-puppets-quartet/'>shadow puppets quartet</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anitadhewy.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anitadhewy.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anitadhewy.wordpress.com&amp;blog=2437799&amp;post=214&amp;subd=anitadhewy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anitadhewy.wordpress.com/2011/07/25/strings-attached-dari-shadow-puppets-quartet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3035dbbffa0d21189c81b45263deb240?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">anita dhewy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
