Kutukan Kudungga: Keserakahan Membawa Petaka

 

Mengangkat persoalan perusakan alam dalam balutan komedi satir, Butet Kartaredjasa bersama tim Indonesia Kita menggelar pentas Kutukan Kudungga, Raja Salah Raja Disembah pada 23 dan 24 September lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Mengambil setting Kalimantan, lakon yang disutradarai Djaduk Ferianto ini berangkat dari dongeng atau legenda di Kalimantan. Tak hanya menyuguhkan lakon teater, pentas ini juga menampilkan sejumlah penari dari Samarinda dan band metal dari Kalimantan, Kapital Band, serta anak-anak Kandang Joerank Doank.

Dari katalog pertunjukkan dijelaskan legenda atau dongeng Kutukan Raja Kudungga ini merupakan semacam peringatan bagi siapa pun agar tidak mengambil kekayaan alam yang ada di kerajaannya untuk kepentingan sendiri. Kisah yang menjadi inspirasi pentas kelima pertunjukkan Indonesia Kita ini dipadu dengan lakon Dhemit yang pernah ditulis almarhum Heru Kesawa Murti untuk Teater Gandrik. Agus Noor melanjutkan penulisan naskah setelah Heru Kesawa Murti meninggal dunia ketika proses persiapan pertunjukkan ini dimulai.

Dikisahkan sekelompok dhemit merasa cemas karena terusik ulah manusia yang seenaknya mengeksploitasi hutan tempat mereka tinggal. Para dhemit itu merasa terancam dan tergusur hingga kemudian mengadu kepada roh leluhur. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan bahwa zaman telah berubah, dimana orang-orang yang salah justru paling lantang bicara tentang kebenaran, zaman ketika para pemimpin yang salah justru disembah.

Disisi lain dikisahkan pula Marwoto, seorang pekerja CV Babat Alas, merasa resah atas proyek pembabatan dan penambangan hutan yang dilakukan perusahaannya. Namun sebagai bawahan, ia tak dapat berbuat banyak, terlebih si bos pemilik perusahaan, Susilo, yang berambisi mengeruk kekayaan bumi Kalimantan, tak mau tahu. Keresahannya semakin menjadi ketika ia merasa diganggu oleh para dedemit, bahkan ia sempat bertengkar dengan sang istri dan harus kehilangan anak karena diculik para dhemit.

Puncaknya Marwoto memutuskan berhenti dari proyek tersebut. Sedang Susilo yang kadung serakah dan tak percaya hal-hal mistis tetap bertekad meneruskan proyek pembabatan dan penambangan hutan bersama asistennya. Mereka tak menghiraukan peringatan Marwoto dan membawa pergi kekayaan alam Kalimantan yang telah dikeruk hingga akhirnya tertimpa kutukan.

Dengan gaya khas teater Gandrik yang penuh guyonan dan plesetan yang mengundang tawa, sindiran dan kritik mengalir dari dialog para pemain. Percakapan para dhemit yang marah atas ulah manusia yang merusak hutan dengan mulus berbaur dengan sindiran terhadap partai politik, pemerintah, dan situasi sosial politik aktual. Begitu juga dengan percakapan antara Marwoto dengan Susilo dan asistennya. Berbagai persoalan dan isu politik yang sedang menjadi sorotan, mereka olah menjadi bahan sindiran yang bisa memerahkan telinga sekaligus mengundang tawa.

Lakon ini juga diselingi sejumlah tarian khas Kalimantan seperti tari Enggang yang dibawakan oleh para penari dari Samarinda. Selain itu band anak muda Kalimantan Timur yang beraliran metal, Kapital Band juga ikut menggebrak panggung dengan lagu-lagu mereka. Sementara urusan musik dalam pementasan ini digarap oleh Djaduk Ferianto bersama kelompok musik yang dipimpinnya, Kua Etnika.

Pentas juga dimeriahkan oleh penampilan anak-anak Kandang Jurank Doank asuhan Dik Doank yang menyanyikan sejumlah lagu ciptaan Dik Doank dengan iringan permainan musik dari Perkusi Kalenk Rombenk. Musik yang riang dengan lirik lagu yang ‘nakal’ dan cerdas ditingkah penampilan anak-anak yang ceria, membuat penampilan mereka memberi kesan tersendiri. Tak hanya bernyanyi bersama anak asuhnya, Dik Doank juga ikut menyumbangkan suara bersama bank Alakadar.

Meski pementasan ini dipenuhi dengan kritik segar yang mengundang tawa, namun untuk ending, Djaduk tampak memilih untuk memberi keleluasaan pada penonton. Kutukan yang menimpa Susilo dan asistennya tidak diwujudkan secara nyata. Sehingga kutukan itu terlihat sebagai sebuah bentuk peringatan.

 

~ by anita dhewy on October 31, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s