Serambi Jazz: Chamber Jazz dan Glen Dauna Project

Satu hal yang saya suka dari Serambi Jazz adalah even ini memberikan sajian menarik di tiap pentasnya, selain tentu saja karena even ini gratis, hehehe. Thank to Goethe Institut then. Seperti Agustus lalu, even yang digelar dua bulan sekali ini menampilkan group jazz yang bisa dibilang unik, Chamber Jazz dan Glen Dauna Project.

Chamber Jazz yang dikomandani oleh Iwan Hasan ini terdiri dari empat musisi, yakni Iwan Hasan (gitar/vokal), Andien (vokal), Enggar Widodo (tuba,trombon), dan Andi Gomez (piano). Ketiadaan bass awalnya membuat saya tak terlalu antusias, namun diluar dugaan, kehadiran tuba yang menggantikan fungsi bass sekaligus drum, memberi warna tersendiri. Selain secara keseluruhan Chamber Jazz merupakan paduan yang unik.

Membuka penampilan dengan nomor berjudul Is You Is Or Is You Ain’t My Baby, dan disusul dengan For This Love, sebuah nomor favorit Andien, saya mulai menikmati permainan mereka. Andien mengungkapkan lagu yang kedua ini dulu biasa dinyanyikan Andien saat berkolaborasi dengan Discuss, band progressif yang digawangi Iwan Hasan. Kebersamaan Iwan dan Andien tersebut kemudian berlanjut dalam kolaborasi Chamber Jazz.

Dalam lagu Dat Dere, Andien dan Iwan mampu membawa suasana segar lewat interaksi mereka. Seperti lirik lagu tersebut, Andien berlagak seolah anak kecil yang merengek minta ini itu pada ayahnya. Iwan yang berperan sebagai sang ayah pun sigap menimpali. Andien sempat mengundang tawa penonton ketika merengek minta memainkan tuba pada Iwan, namun kemudian mengurungkan niatnya dengan berkomentar, ”well, I don’t wanna as ’dower’ as you”, saat melihat Enggar yang serius meniup tuba. Juga ketika Andien meminta kamera yang dipakai penonton di deret kursi paling depan.

Di lagu Javanese Suite, yang merupakan medley tembang-tembang jawa, Chamber Jazz menghadirkan nuansa berbeda yang sungguh memikat. Pada lagu keempat ini Iwan menggunakan gitar akustik khusus yang petikannya menghasilkan bunyi dengung gamelan Jawa sebagai intro yang disusul dengan suara Andien melantunkan tembang berbahasa Jawa Tak Lelo Lelo Lelo Ledung, sebuah lagu nina bobo ala Jawa. Disambung dengan Padang Bulan dan Cublak-Cublak Suweng, lagu permainan anak-anak. Di bagian ini Iwan banyak berimprovisasi dengan gitarnya, selain suara gemelan, suara ketukan ia hasilkan dengan memukul-mukul body gitarnya.

Usai lagu keempat Andien dan Andy Gomez meninggalkan panggung, lalu Iwan dan Enggar berduet membawakan Blue Bossa. Iwan mengganti gitar akustiknya sementara Enggar memainkan trombon. Duet ini menyajikan penampilan yang menarik yang diakhiri dengan permainan solo Enggar. Di lagu ini Enggar menunjukkan kepiawaiannya bermain trombon. Ia bahkan meniup trombon sambil mempreteli alat musik itu satu persatu dan kemudian memasangnya kembali serta menutup aksinya dengan penggalan salah satu hits Deep Purple, Smoke on The Water. Tepuk tangan penonton pun memenuhi ruangan usai ’atraksi’ yang ditampilkan Enggar.

Personel yang lain kemudian kembali ke panggung dan mereka melanjutkan penampilan dengan membawakan My Favorite Things. Disambung dengan HoneySuckle Rose yang menutup penampilan mereka.

Disesi kedua tampil Glen Dauna Project, yang digawangi Glen Dauna, yang dikenal sebagai pianis Twilight Orchestra. Glen Dauna Project ini juga melibatkan dua orang anaknya yakni Indra Artie Dauna pada trumpet dan Rega Dauna pada harmonika. Formasi lengkap Glen Dauna ditambah kehadiran Joshua Arifin (double bass), Dezca Anugrah Samudra (drum), dan Ajierao Ramdhan (perkusi). Untuk penampilan di Goethe Haus malam itu mereka menghadirkan bintang tamu Jeffrey Tahalele.

Komposisi ciptaan Glen Dauna berjudul Something mengawali penampilan mereka. Diawali tiupan trompet Indra, disusul denting piano, petikan bass dan ketukan dram, nomor pembuka ini menyemarakkan panggung. Disusul komposisi lain berjudul Who Is This yang juga merupakan karya Glen Dauna.

Pada lagu ketiga, yang berjudul She, Rega ikut bergabung dengan memainkan harmonika, dan Jeffrey Tahalele masuk sebagai bintang tamu dengan memainkan akustik bass-nya. Sebuah komposisi yang keren. Disambung dengan Midnight, yang memiliki tempo lebih lambat dibanding beberapa komposisi Glen Dauna sebelumnya. Glen Dauna Project ini memang memilih memainkan jazz komposisi orisinil mereka, yang diciptakan Glen Dauna.

Pada lagu kelima mereka memainkan I’ve Grown Accoustume To Her Face, sebuah nomor jazz yang diambil dari musikal My Fair Lady. Meskipun Rega ini masih terhitung belasan tahun, namun permainan harmonikanya boleh juga. Nomor berjudul I Don’t Know menjadi penutup penampilan mereka malam itu dan sebuah nomor tambahan sebagai bonus bagi penonton.

~ by anita dhewy on September 28, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 213 other followers