Menelusur Akar Budaya Nusantara Lewat Mak Jogi

Budaya Melayu yang menjadi akar budaya nusantara menjadi tema pokok yang diangkat Indonesia Kita edisi keempat. Lewat kisah Mak Jogi, penonton diajak melihat kembali kearifan dan kebijakan hidup yang terbungkus dalam hikayat, pantun maupun gurindam dan berpadu padan dalam dendang nyanyian dan gerak tarian. Pertunjukan ini juga mengajak penonton menelusuri kekayaan dan keragaman budaya melayu.

Dalam program Indonesia kita kali ini, penari dan koreografer Tom Ibnur terlibat sebagai salah satu tim kreatif sekaligus berperan sebagai tokoh sentral, Mak Jogi. Pentas yang digelar akhir Juli lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki ini disutradarai Djaduk Ferianto, sementara penataan musiknya dipercayakan pada Yaser Arafat, yang dikenal lewat Malacca Ensemble-nya.

Dibuka oleh tari sekapur sirih, yang diambil dari gerakan Melayu lama dalam rentak irama asli, mengalirlah kisah Mak Jogi, yang dituturkan oleh tukang cerita Agus PM Toh a k a Agus Nur Amal, pendongeng asal Aceh itu. Kali ini ia ditemani seorang asisten yang diperankan salah satu anggota Trio GAM, Gareng Rakasiwi, group komedian dari Yogyakarta.

Alkisah di sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang perempuan, sang raja dirundung gelisah akibat mimpi yang datang berulangkali. Ia melihat seberkas cahaya yang sangat terang turun di atas kerajaannya. Raja pun memanggil orang-orang kepercayaannya, mulai dari penasehat raja, penyair kerajaan, hang panglima, dan hang dagang, serta awang pengasuhnya untuk menafsirkan mimpinya.

Dari semua nasehat yang diberikan, sang raja memilih untuk mengikuti nasehat awang pengasuhnya yang berpendapat mimpi sang raja merupakan petunjuk agar raja mencari air tujuh muara. Air pertama ada di kerajaan sang Baginda, sementara enam jenis air lainnya akan ditemukan di tempat-tempat lain di nusantara. Maka raja menunjuk sejumlah penasehatnya untuk menjalankan misi tersebut. Awang pengasuh meminta raja untuk menyertakan Mak Jogi, seorang penari kerajaan yang mampu menarikan bermacam tarian, dalam misi tersebut karena menurutnya Mak Jogilah yang akan membantu keberhasilan pencarian air tujuh muara tersebut lewat kepiawaiannya dalam menari.

Maka mulailah tim kecil yang terdiri dari Hang Panglima, Hang Dagang, Mak Jogi dan asistennya Bujang melakukan ekspedisi pencarian air tujuh muara. Setiap kali mereka menginjakkan kaki ke suatu daerah, mereka disambut dengan tarian setempat. Disinilah Mak Jogi mengambil peran penting dengan membuktikan kecakapannya sebagai penari. Selain bisa mempelajari gerak tari setempat dalam waktu singkat, ia juga mampu menampilkan tari-tarian yang memikat penduduk setempat. Sehingga ia diizinkan mendapatkan air dari daerah tersebut.

Meskipun dalam kisah tersebut, Mak Jogi dan rombongan hanya singgah di daerah Minangkabau, Dieng, dan Kalimantan, namun di panggung juga ditampilkan beberapa properti yang menjadi simbol khas yang merepresentasikan budaya/wilayah tertentu seperti betawi dan papua. Karena memang budaya Melayu merambah sejumlah wilayah di nusantara.

Tokoh Mak Jogi ini diambil dari sebutan Mak Joget. Dalam katalog pertunjukkan disebutkan, Mak Jogi merupakan tokoh perempuan dalam cerita-cerita Melayu yang biasanya ditampilkan melalui musik dan tari. Biasanya tokoh ini diperankan oleh laki-laki. Mak Joget biasanya ditampilkan punya karakter yang jenaka untuk menyambung cerita dari adegan ke adegan yang lain. Atau untuk memberikan semangat agar para pengunjung dapat turut meramaikan perhelatan.

Tom Ibnur yang berperan sebagai Mak Jogi dapat membawakan karakter ini dengan sangat luwes. Tak kalah menarik penampilan Didik Nini Towok yang berperan sebagai Nyi Towok, penjaga Candi Dieng. Selain menampilkan dua penari sekaligus koreografer ternama tersebut, koreografi pertunjukkan ini digarap oleh kolaborasi antara Tom Ibnur dan Hartati yang menyajikan tari tradisi dan menampilkan banyak rentak tradisional Melayu. Diambil mulai dari yang klasik seperti Mak Yong, tari pergaulan atau Tari Jogi, rentak-rentak asli Mainang dua atau Joget, serta rentak Zapin.

Tari-tarian tersebut tampil menyatu dan menjadi bagian dari cerita. Dalam balutan busana dengan warna-warna cerah dan dibantu dengan tata pencahayaan yang baik, gerak tarian yang dibawakan para penari tersebut taampil mempesona.

Selain menyuguhkan beragam tarian yang memikat, unsur penting lain yang juga menjadi kekuatan cerita Mak Jogi adalah musik. Di tangan Yaser Arafat, musik Melayu yang menjadi unsur utama pertunjukkan ini berpadu dengan musik Minangkabau. Pada musik Melayu bunyi-bunyian didominasi oleh alat-alat musik seperti akordion, biola, dan gong. Sedang musik Minangkabau kental dengan bunyi seruling. Nuansa modern terasa lewat kehadiran alat musik standar seperti gitar bass atau synthesizer.

Pemain biola Hendri Lamiri juga ikut terlibat, bahkan pada lagu Hang Tuah, ia tampil solo dengan naik ke atas panggung. Beberapa lagu dalam pertunjukkan ini mempertahankan aransemen lamanya, semisal lagu Selendang Delima yang dimainkan di awal sebagai pembuka pertunjukkan, seperti dijelaskan Yaser dalam katalog pertunjukkan. Selain lagu-lagu legendaris, lagu populer seperti Laksamana Raja di Laut juga turut dimainkan.

Adegan berbalas pantun dan gurindam yang menjadi ciri khas budaya Melayu juga mewarnai pentas malam itu. Kadang adegan berbalas pantun ini mengundang tawa penonton karena pantun yang diciptakan secara spontan itu kadang terkesan memaksa. Meskipun seringkali juga mendatangkan applaus penonton terutama saat pantun yang tercipta terdengar cerdas dan mengena.

Lewat pantun, syair, dan dialog para pemain, terselip sentilan-sentilan politik dan sindiran atas isu aktual, yang tentu saja mengundang tawa penonton. Pada pertunjukkan ini tampil juga bintang tamu Effendi Gazali, yang berperan sebagai penasehat raja dan banyak melontarkan sindiran-sindiran politik. Selain itu kehadiran Trio GAM, dengan Gareng Rakasiwi sebagai asisten tukang cerita, Joned sebagai Hang Dagang, dan Wisben yang menjadi pertapa, mampu mengundang tawa penonton lewat dagelan dan kelucuan yang mereka hadirkan. Tak ketinggalan Udin Semekot yang berperan sebagai Bujang dan Agus PM Toh, si tukang cerita yang aksinya sering membikin penonton tertawa.

Secara keseluruhan, Mak Jogi merupakan tontonan yang menarik. Sejauh ini dari empat program Indonesia Kita, kecuali Laskar Dagelan yang tak bisa saya tonton karena kehabisan tiket, Mak Jogi menjadi pertunjukkan yang paling bagus. Cerita yang menarik berpadu padan dengan tari-tarian indah dan musik apik, ditambah tata artistik yang bagus, (baik penataan busana, pencahayaan, maupun setting panggung), lawakan yang segar dan porsi permainan yang pas dari para pemain menjadikan tontonan ini begitu memikat.

 

~ by anita dhewy on September 28, 2011.

2 Responses to “Menelusur Akar Budaya Nusantara Lewat Mak Jogi”

  1. i like this u know haha

  2. glad to know you like this

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 213 other followers