Kartolo yang Mbalelo
Menyaksikan Pertunjukkan Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo adalah menyaksikan cerita keseharian berbalut carut marut kondisi sosial politik dalam panggung yang lain. Selain tentu saja menyaksikan bagaimana kesenian tradisional dari Jawa Timur ini berpadu padan dengan kesenian modern. Dan sebagaimana halnya ludruk yang penuh dengan banyolan yang lugu, cerdas, dan menggelitik, maka sepanjang 2,5 jam pertunjukkan itu gelak tawa penonton hampir tak berhenti terdengar.
Pertunjukkan yang digagas Indonesia Kita ini digelar di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki awal Juli lalu. Di tangan sutradara Sujiwo Tejo dan tim kreatif Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto, ludrukan Kartolo Mbalelo dikemas dengan sentuhan modern yang memberi nuansa berbeda meski tak meninggalkan ruhnya.
Bercerita tentang Kartolo, seniman ludruk ternama dari Jawa Timur yang jujur yang suatu hari diajak Sapari, sahabatnya, bermain ludruk atas undangan sebuah parpol. Kartolo yang tak suka politik awalnya menolak, namun kemudian menyanggupi atas desakan Yu Ning, istrinya. Usai menyaksikan Kartolo, Cak Lontong, politisi ternama yang sudah lama menjadi penggemar Kartolo berniat menggaet Kartolo ke dunia politik dengan menawarinya jabatan sebagai petinggi partai.
Kartolo yang pada dasarnya tak suka politik jelas menolak tawaran tersebut. Jabatan sebagai bendahara partai hingga calon pasangan Cak Lontong untuk pemilihan presiden periode mendatang sama sekali tak menarik minatnya. Maka Cak Lontong pun menggunakan berbagai cara agar Kartolo mengiyakan tawarannya. Dari mulai menyuruh Inul Daratista, sang biduan dangdut untuk merayu hingga membujuk Sapari untuk mempengaruhi Kartolo. Namun semua itu tak mempan. Keputusan Kartolo membuat Yu Ning marah, bahkan ia mengancam akan meninggalkannya.
Penolakan Kartolo atas tawaran jabatan empuk dari petinggi partai besar dan keputusannya untuk memilih menjadi orang biasa inilah yang kemudian membuat Kartolo disebut mbalelo.
Cerita yang sederhana sebenarnya, namun dimainkan dengan apik hingga membuatnya menjadi tontonan yang menarik. Mengingat judulnya musikal ludrukan, maka unsur musik dan lagu terasa kental dalam pertunjukkan ini. Seperti diungkapkan Sujiwo Tejo dalam katalog pertunjukkan bahwa yang akan ditampilkan adalah sebuah pertunjukkan musikal ala Broadway tapi tetap ndeso. KuaEtnika, kelompok musik pimpinan Djaduk Ferianto menjadi pendukung musik utama.
Sentuhan modern terlihat disana-sini, meskipun demikian pertunjukkan ini tetap mengikuti pakem ludruk. Tari remo tetap muncul sebagai pembuka, yang diikuti dengan parikan atau pantun oleh cak Kartolo dan cak Sapari. Dan tentu saja tak ketinggalan, penampilan para waria.
Pentas ini juga memadukan unsur kesenian lain. Seperti tampak pada adegan ketika Kartolo dan Yu Ning bertengkar karena sikap Kartolo yang tak mau terlibat politik, yang digambarkan dengan perkelahian antara arjuna dan buta cakil, yang biasanya ada dalam lakon wayang orang. Mungkin karena sutradara pertunjukkan ini Sujiwo Tejo yang juga dikenal sebagai seorang dalang, maka penggabungan dua unsur seni yang berbeda ini bisa terjadi. Namun yang pasti adegan ini terlihat menarik dan memberi warna lain.
Di panggung, arjuna dan buta cakil beradu fisik, sementara di balik panggung, Kartolo dan Yu Ning perang mulut. Hanya suara mereka berdua yang terdengar mengiringi pertarungan antara Arjuna yang diperankan penari perempuan dan mewakili sosok Kartolo dengan buta cakil yang diperankan penari laki-laki dan menyimbolkan diri Yu Ning.
Selain itu seperti pertunjukan-pertunjukan dalam program Indonesia kita sebelumnya yang memberi ruang bagi musik hiphop/rap/akapela, Musikal Ludrukan Kartolo Mbalelo juga menampilkan hal serupa. Kali ini Akapela Madura (Musik Mulut Madura), yang aslinya di Madura disebut Pojian, artinya pujian kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta keselamatan dan keberkahan. Dalam pertunjukan ini mereka menampilkan tiga lagu.
Bahkan tari Gandrung yang berasal dari Banyuwangi itu juga dimunculkan di atas panggung. Tak ketinggalan tari-tarian modern ala musikal Broadway yang gemerlap dan dibawakan oleh sejumlah waria. Lagu-lagu pop yang cukup akrab di telinga masyarakat semacam Denpasar Moon dan In The Arm of An Angel juga menghiasi pertunjukkan ini.
Termasuk lagu-lagu Sujiwo Tejo yang ditampilkan dengan aransemen baru dari KuaEtnika. Seperti lagu Pada Suatu Ketika yang dinyanyikan ketika Cak Kartolo bertapa dan Anyam-Anyaman Nyaman yang muncul di bagian akhir sebagai penutup ketika Cak Kartolo dan Yu Ning kembali rukun. Penampilan lagu-lagu Sujiwo Tejo ini buat saya menjadi semacam bonus, karena saya menyukai lagu-lagu Sujiwo Tejo.
Ada juga jurus-jurus silat yang dimainkan para pesilat dari Perguruan Silat Tiga Berantai. Adegan ini muncul ketika Cak Kartolo yang telah berubah menjadi Sakerah, bertarung dengan anak buah Cak Lontong yang tidak terima dengan sikap Kartolo.
Selain Inul Daratista dan Merlyn Sopjan, ratu waria Indonesia, Ludrukan Kartolo Mbalelo juga menampilkan bintang tamu Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Wakil Ketua DPR Pramono Anung yang menjadi diri mereka sendiri. Namun penampilan mereka berdua belum bisa melebur dengan pemain-pemain lain.
Cerita Kartolo Mbalelo ini sarat dengan kritik terhadap situasi sosial politk aktual. Satir politik yang menyentil muncul dalam dialog dan polah tingkah para pemain serta parikan atau pantun yang muncul diawal pertunjukkan. Bahkan lagu yang dinyanyikan Inul Daratista juga menjadi salah satu cara untuk melontarkan sentilan. Lagu berjudul Lupa yang sempat dipopulerkan band Kuburan diganti liriknya menjadi kritik terhadap para politisi yang mudah melupakan janjinya saat berkampanye.
Meskipun kisah ini memiliki warna politis yang kuat, namun seperti dipaparkan dalam katalog pertunjukkan, ternyata Cak Kartolo sebagai pemeran utama enggan berbicara politik, sehingga naskah pertunjukkan sempat mengalami perubahan beberapa kali. Dan di bagian akhir sikap mbalelo Kartolo diwujudkan dengan keputusannya untuk tak terlalu ambil pusing dengan persoalan politik. Sebaliknya, ia memilih untuk mengurus keluarga dan menjadi seniman saja.
Menurut Sujiwo Tejo, hal ini bukan suatu bentuk sikap apatis. Tapi sebuah usaha untuk menyebarkan semangat bahwa pembenahan di tingkat yang lebih tinggi baru akan berhasil jika masing-masing individu di suatu negeri terlebih dahulu membenahi dirinya sendiri.
