Perempuan Rusuk Dua dan Lampan Lahat
Koreografer Lalu Suryadi Mulawarman menampilkan dua karya terbaru yang berakar pada kisah dari tanah kelahirannya, Lombok. Sebuah karya etnik-kontemporer yang menarik.
Bersama kelompok tari yang dipimpinnya, Sak Sak Dance Production, Perempuan Rusuk Dua dan Lampan Lahat ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta pada pertengahan Juni lalu sebagai bagian dari pagelaran Jakarta Anniversary Festival IX. Dalam koreografinya Suryadi juga memberikan sentuhan teatrikal.
Perempuan Rusuk Dua (as the former sasak woman) yang inspirasinya bersumber dari novel dengan judul yang sama karya Salman Faris dan Eva Nourma tampil di sesi pertama. Tari dibuka dengan adegan seorang lelaki berdiri membelakangi penonton di tengah panggung, sementara lelaki yang lain berdiri menyamping dan dibelakangnya seorang perempuan bersimpuh.
Sementara dari kiri dan kanan panggung tiga penari perempuan masuk ke panggung dengan berjalan jongkok. Lelaki yang membelakangi penonton kemudian memberikan topeng berwarna putih pada lelaki disampingnya. Sementara tiga penari perempuan tadi duduk di panggung dan mulai melakukan gerakan yang berpusat pada kaki. Gerak mereka pelan dan teratur diiringi musik dari alat musik tiup dan gesek yang mengalun lirih. Sementara perempuan yang bersimpuh bergerak ke sisi kanan panggung dan mulai menguyah sirih.
Semakin lama gerakan tiga penari itu tak hanya berpusat di kaki, namun tangan mereka juga ikut bergerak, dan perlahan mereka berdiri. Gerakan-gerakan yang dihasilkan pun semakin kompleks dan cepat seiring dengan bunyi alat musik pukul yang lebih dominan.
Saya belum membaca novel yang menjadi inspirasi koreografi ini, terlebih lagi saya tak banyak tahu tentang budaya sasak. Namun katalog pertunjukan sedikit membantu lewat prolog yang menjelaskan bahwa dalam masyarakat sasak, bangsawan dan jajar karang sangat menentukan harga uang jaminan pernikahan perempuan sasak. Meski demikian, tak semua bahasa simbolis yang membingkai tarian ini bisa saya pahami maknanya.
Terlepas dari persoalan makna, tarian ini sangat bagus, dari segi koreografi menarik, memadukan antara gerakan yang lembut dan energik. Ketiga penari juga sangat kompak, hitungan tiap gerakan sangat tepat. Ketika salah satu penari melakukan gerakan tersendiri, ia kemudian dapat bergabung kembali dengan dua penari yang lain dengan gerakan yang presisi meski tempo tarian sangat cepat.
Tarian ini berkisah tentang cinta, kesetiaan dan kungkungan perjodohan. Meskipun tarian ini mengangkat kisah tentang perempuan sasak, akan tetapi justru sosok laki-laki yang bersuara, berbicara dan bukan sebaliknya. Sementara itu dalam salah satu adegan, sang penari berteriak, seperti menjerit dengan gerak tubuh seolah-olah terisak. Sehingga bisa dibilang tarian ini baru sebatas menampilkan gambaran, sebuah deskripsi atas realitas.
Sementara dalam koreografi yang kedua, yang berjudul Lampan Lahat, dengan penulis naskah Agus Faturrahman, Suryadi mengangkat kisah Wong Menak Jayengrana, sang raja di raja sakti. Pada koreografi ini Suryadi ikut menari dan berperan sebagai tokoh utama, Jayengrana. Kali ini Suryadi menggunakan batang pisang yang diumpamakan sebagai sosok orang.
Wong Menak Jayengrana adalah sosok yang sakti. Meski demikian, kesaktian seorang Kawi tetap tak mampu melawan hukum jagat, secara naluriah ia akan mengakhiri kisah kesaktiannya dengan takdir kefanaan. Begitulah kisah Wong Menak Jayengrana, raja di raja sakti, harus menyongsong takdir kemanusiaannya dengan cara manusia dan jalan hidup yang dijalaninya.
Koreografi ini dimainkan oleh sejumlah penari, selain Suryadi dan dua penari perempuan, tarian ini juga melibatkan tiga penari laki-laki yang mewakili tiga karakter yang ada pada diri Jayengrana. Ketiga penari laki-laki ini muncul dengan masing-masing membawa batang pisang. Sambil bergerak menari, bergantian mereka berbicara pada ”sosok” yang diwujudkan batang pisang tersebut dengan karakter suara yang berbeda-beda, seolah-olah suara nurani yang berbicara pada Jayengrana. Mereka terus berbicara sambil menguliti – atau mungkin lebih tepat mencabik – batang pisang tersebut.
Sementara disisi panggung sebelah kiri Jayengrana dan dua penari perempuan juga menari. Dari kiri panggung cahaya menyorot terang dan perlahan-lahan Jayengrana seperti menaiki tangga berjalan menuju cahaya tersebut. Kematian Jayengrana mengakhiri pentas malam itu.
Lewat koreografi tari kontemporer yang diciptakan, Lalu Suryadi memproyeksikan nilai-nilai tradisi sebagai pernyataan ekspresinya.
