Mini Festival di Serambi Jazz Bulan Juni

Akhirnya tiba juga bulan Juni dan artinya Serambi Jazz kembali hadir. Ada yang sedikit berbeda kali ini karena di bulan ini format yang diusung berupa mini festival mengingat ada tiga kelompok musik jazz yang tampil dalam dua hari pertunjukkan di GoetheHaus. Dari ketiga group tersebut dua berasal dari Indonesia, yakni Kuartet Sandy Winarta dan Benny Likumahuwa Jazz Connection yang tampil di hari pertama, Kamis (9/6), serta satu group dari Prancis, Eric Legnini Trio yang unjuk kebolehan di hari Jumat (10/6).

Rencana semula menyaksikan penampilan ketiga group jazz tersebut menjadi berubah ketika di Jumat malam ada agenda mendadak yang mengubah jadwal saya. Meski tak bisa menikmati permainan Eric Legnini dengan trio-nya, namun Serambi Jazz bulan ini tetap memberi kesan buat saya. Penampilan Sandy Winarta dengan kuartet-nya dan Benny Likumahuwa dengan “anak-anaknya” yang tergabung dalam Jazz Connection dengan gaya dan kekhasan masing-masing sungguh memikat dan menghibur.

Saya sedikit terlambat di hari pertama pertunjukkan. Urusan dengan dokter gigi bisa selesai jam 19.00, namun urusan dengan perut lapar sungguh tak bisa ditawar. Alhasil saya baru sampai GoetheHaus sekitar pukul 20.00, sehingga sudah tak kebagian katalog pertunjukkan dan yang paling buruk, melewatkan dua nomor dari Sandy Winarta dkk! Dan ternyata masih ada satu lagi akibat lanjutan yang harus saya tanggung (halah), saya harus berdiri sepanjang pertunjukkan karena tempat duduk sudah penuh. Namun saya tak sendirian, bersama saya ada puluhan penonton yang juga tak kebagian kursi. Peminat pentas jazz yang digelar dua bulan sekali ini sangat banyak memang. Meski harus berdiri, demi jazz tak apalah, dua setengah jam berdiri itu terbayar dengan kenikmatan mendengarkan permainan musik yang indah.

Kuartet Sandy Winarta tampil di sesi pertama, dengan formasi Sandy Winarta pada drum, Andy Gomez pada piano, Robert Mulyarahardja pada gitar dan Chaka Priambudi pada kontrabas. Sandy menjelaskan formasi kuartetnya kali ini banyak berubah dari formasi awal ketika dibentuk, hanya Robert yang sejak awal bermain dengan Sandy. Perjumpaan Sandy dengan Andy dan Chaka yang berlanjut dengan permainan musik bersama dan menemukan kecocokan serta diskusi tentang musik yang juga nyambung pada akhirnya membawa mereka terlibat dalam Kuartet Sandy Winarta.

Setelah memperkenalkan formasi groupnya, mereka kembali memainkan dua komposisi berjudul You Don’t Know What Love Is dan Maiden Voyage. Dijeda antara lagu yang satu dengan yang lain Sandy menjelaskan konsep yang diusung kuartetnya yang memilih memainkan jazz standar dengan gaya mereka. Dari komposisi jazz standar yang menjadi acuan kemudian dieksplorasi dengan improvisasi dan gaya permainan mereka. Hasilnya musik yang apik dan tepuk tangan penonton yang menggemuruh.

Lagu selanjutnya yang mereka mainkan adalah Blues in F dan I Love You, nomor yang terakhir ini disebut Sandy sebagai nomor kesukaannya. Buat telinga saya yang awam, permainan Sandy Winarta dkk ini terdengar menarik. Tepuk tangan selalu terdengar tiap kali masing-masing personel unjuk kebolehan. Dua nomor terakhir ini menjadi penutup permainan Kuartet Sandy Winarta malam itu.

Di sesi kedua giliran Benny Likumahuwa Jazz Connection yang tampil. Sebuah komposisi ciptaan Barry Likumahuwa berjudul It’s Not a Jazz Tune mengawali penampilan mereka. Nomor pembuka ini kental dengan nuansa jazz, meski judulnya justru sebaliknya. Maka usai lagu, Benny menyapa penonton dan bertanya, apakah lagu It’s Not a Jazz Tune yang baru saja mereka mainkan bernuansa jazz atau tidak. Tentu saja penonton menjawab iya, dan Benny pun menukas itulah jazz.

Ia lalu berkomentar soal jumlah penonton yang banyak malam itu, yang tentu saja membuatnya senang. Benny lalu bercerita bagaimana dulu sekitar tahun 70-an peminat musik jazz belum sebanyak sekarang. Ia ingat ketika pada awal tahun 70-an dirinya bersama Jack Lesmana memainkan jazz di Taman Ismail Marzuki dengan penonton yang hanya berjumlah 3 orang. Ya, Benny Likumahuwa dan almarhum Jack Lesmana adalah sosok musisi jazz senior yang punya peran besar terhadap perkembangan musik jazz di tanah air.

Benny Likumahuwa yang dikenal piawai memainkan trombon dan sejumlah alat musik lain ini, malam itu memainkan trombon dan flute. Benny menjadi yang paling senior dari semua personil Benny Likumahuwa Jazz Connection yang terdiri dari Barry Likumahuwa (bass) yang sudah mengeluarkan sejumlah album jazz dan cukup dikenal dikalangan anak muda, Donny Joesran (piano/keyboard), Indra Aziz (vokal dan saksofon), dan Dimas Pradipta (drum).

Benny mengungkapkan bahwa ia merasa sangat senang bermain musik dengan musisi-musisi muda tersebut. Sebagai musisi senior ia memiliki pengalaman, semantara para musisi muda itu memiliki ide-ide baru. Dua hal inilah yang membuat musik Benny Likumahuwa Jazz Connection menarik untuk didengar dan dinikmati. Latar Belakang masing-masing personil yang cukup beragam ini ikut mempengaruhi konsep musik yang mereka tawarkan, yang sangat kaya warna.

Setelah nomor pembuka, lagu selanjutnya yang mereka mainkan berjudul Blues For Didi. Lagu ini diciptakan oleh Benny Likumahuwa sebagai penghargaan bagi seorang pianis, temannya, yang bernama Didi dan sudah meninggal. Benny menyebut Didi sebagai salah satu pianis terbaik yang pernah dikenalnya, karena dia memainkan piano dengan segenap hatinya, dan itulah yang menurut Benny menjadi pembeda antara seorang musisi dengan teknisi – yang melulu hanya menguasai teknik permainan alat musik semata. Meskipun Didi tak bisa membaca not lagu, namun permainan musiknya sangat bagus. Maka Blues For Didi pun diciptakan Benny dengan musik yang sederhana, nada yang dimainkan hanya itu-itu saja, namun kaya dengan warna.

Usai lagu kedua, Benny lalu tampil berdua saja dengan anaknya, Barry Likumahuwa. Bila pada lagu sebelumnya Barry menggunakan bass akustik, maka dalam sesi duet ini ia memakai bass elektrik. Sementara Benny memainkan flute. Benny sempat bercerita bagaimana dulu Barry kecil selalu ikut dengannya jika ia sedang main musik. Barry sendiri belajar memainkan alat musik sejak masih kecil. Dan menurut Benny saat ini posisinya menjadi berkebalikan, dirinya yang ikut Barry bermain musik.

Barry sempat berbisik soal lagu yang akan mereka mainkan. Dan Benny pun menimpali dengan menjelaskan pada penonton kalau ia dan Barry tidak pernah berkomunikasi dalam arti berdiskusi secara khusus tentang lagu yang akan mereka bawakan bersama, apa yang tampil di panggung mengalir begitu saja, dan itulah jazz. Hal ini terbukti ketika bapak-anak ini tampil bersama. Permainan mereka berdua penuh dengan improvisasi yang indah. Nada-nada yang dihasilkan Barry dari petikan bass-nya dapat ditimpali dengan permainan flute Benny. Bahkan ketika Barry memukul-mukul body bass untuk menghasilkan suara, Benny pun dapat menimpalinya lewat suara yang dihasilkan dari flute-nya. Aksi ini tentu saja mengundang tepuk tangan penonton. Dua lagu mereka mainkan lewat duet.

Setelah duet dua generasi Likumahuwa ini, personil yang lain kembali ke atas panggung dan mereka memainkan sebuah nomor jazz standar berjudul equinox, yang di-arrange ulang oleh Benny, yang menurutnya hal itu sah-sah saja bagi jazz. Dan hasilnya komposisi yang indah. Tepuk tangan penonton selalu terdengar tiap kali masing-masing personil unjuk kepiawaian lewat permainan alat musiknya. Malam itu dari pernyataan yang dilontarkan, Benny seakan-akan ingin menegaskan bahwa improvisasi menjadi kunci dalam permainan musik jazz. Rasanya saya sepakat dengan Benny, dan faktor ini pula yang menurut saya membuat jazz tidak akan pernah membosankan untuk dinikmati.

Lagu selanjutnya yang mereka mainkan sedikit berbeda dengan beberapa nomor sebelumnya yang hanya berupa instrumentalia, kali ini Indra Aziz tak memainkan saksofon, namun menunjukkan kemampuan vokalnya yang keren itu. Di pertengahan lagu berjudul Well We Needn’t itu Benny juga sempat nimbrung, ikut menunjukkan kemampuan vokalnya, berbalas-balasan dengan Indra, sungguh, keren sekali mereka! Nomor lain yang mereka mainkan adalah Like Father Like Son, sebuah komposisi yang diciptakan Benny sekitar tahun 1972. Namun ketika itu dia tidak tahu judul apa yang akan diberikan untuk lagu tersebut. Barry-lah yang kemudian menurut Benny menginspirasinya memberikan judul Like Father Like Son.

Ini adalah lagu terakhir yang mereka mainkan, meskipun begitu penonton belum mau beranjak pulang. Mas MC yang tanggap pun meminta Benny Cs untuk kembali tampil dan memberi bonus pada penonton. Akhirnya sebuah nomor tambahan mereka mainkan dan tepuk tangan penonton menutup Serambi Jazz malam itu. Bulan ini Serambi Jazz memberi tontonan yang sangat mengesankan, rasanya saya tak sabar menanti Serambi Jazz selanjutnya.

 

~ by anita dhewy on June 16, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 213 other followers