Membaca Maluku Lewat Lagu

Maluku dan lagu adalah dua hal yang menyatu. Sepertinya hal ini dipahami benar oleh Indonesia Kita, sebuah forum dialog yang berupaya memahami ke-Indonesia-an melalui jalan kesenian dan kebudayaan yang digagas Butet Kartaredjasa dkk, ketika menggarap dan menggelar konser musik bertajuk Konser Cinta Beta Maluku. Lewat lagu penonton diajak memahami gambaran tentang rakyat Maluku lengkap dengan kebudayaan dan latar sosialnya. Tak hanya gambaran tentang sejarah yang telah lalu dan kondisi saat ini saja yang ditampilkan, namun juga harapan dan impian mengenai masa depan mereka.

Konser yang digelar pada Jumat dan Sabtu, 27 dan 28 Mei di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki ini melibatkan musisi Maluku lintas generasi sekaligus lintas genre. Sejumlah seniman dari Maluku datang khusus ke Jakarta untuk pagelaran ini. Selain itu beberapa musisi yang sudah dikenal di pentas nasional seperti Barry Likumahuwa, Bob Tutupoly dan Glenn Fredly juga ikut terlibat. Tak hanya musik dan lagu, konser ini juga diisi dengan tarian, puisi, dan obrolan ringan-berisi dengan setting warung kopi Maluku.

Usai kalimat pembuka dari Butet Kartaredjasa, layar dibuka dan pertunjukan dimulai. Di tengah panggung yang temaram, sepasang penari bergerak dengan iringan musik tradisional Maluku yang dimainkan oleh Haunesa Etnika. Gerak tubuh yang intim dari kedua penari berpadu indah dengan musik pengiring. Aura sensual sekaligus mistis terasa lewat gerak tubuh mereka. Adegan ini sepertinya menggambarkan masa-masa awal peradaban. Di pertengahan, muncul empat penari perempuan yang membawa daun pisang mengiringi kedua penari tadi. Sementara itu paduan suara Effata Choirs ikut menyumbang suara.

Setelah tarian pembuka, setting panggung berubah, suasana pantai kental terasa dengan perahu, pohon kelapa dan layar dibelakang panggung laksana hamparan laut. Marieonie Serhalawan tampil membawakan lagu Angin Barat dengan iringan petikan gitar hawaiian dari Bing Leiwakabessy. Disusul Molukka Hip-Hop Community dengan lagu Mama Lole. Tak ketinggalan musisi senior seperti Zeth Lekatompessy. Suasana menjadi semarak ketika musisi-musisi muda yang tergabung dalam Molukka Hip-Hop Community naik ke atas panggung dengan diiringi para penari dari Beta Dance.

Dari tarian dan lagu beralih ke obrolan santai ala warung kopi Maluku bersama Julius Bernhard Makatita yang akrab disapa om Koko dan Zeth Lekatompessy serta Lia Kilikily, dkk. Suasana pantai sejenak berganti dengan setting warung kopi lengkap dengan gerobak dan meja kursi-nya. Obrolan dan gurauan mereka banyak menggunakan ungkapan-ungkapan khas Ambon yang mengundang gelak tawa penonton. Sayang, saya tak banyak mengerti dialek Ambon, dan hanya bisa menangkap sedikit-sedikit percakapan mereka. Teman nonton saya malam itu, Christina Dwi Susanti, cukup mengerti gurauan mereka, sehingga ikut tertawa renyah bersama penonton yang lain yang juga mengerti guyonan ala orang Ambon itu. Yah, tak apalah, setidaknya saya bisa tahu posisi orang-orang yang tidak mengerti bahasa Jawa ketika mendengarkan guyonan orang Jawa saat melihat pentas Butet Kartaredjasa dkk, misalnya.

Lawakan ini berlanjut dengan nyanyian yang didendangkan Zeth Lekatompessy dan Bob Tutupoly. Penampilan mereka berdua ditemani suara trombon yang dimainkan Benny Likumahuwa. Nuansa jazz sangat terasa dalam lagu-lagu mereka. Ya, penataan musik konser ini ditangani oleh Barry Likumahuwa, musisi jazz muda berbakat, dibantu oleh sejumlah musisi Maluku yang tergabung dalam Home Band Beta Maluku.

Usai penampilan penyanyi senior tersebut, panggung yang semula terang menjadi redup. Di panggung muncul Mohammad Irfan Ramly, seniman muda Ambon yang membawakan monolog yang berkisah tentang konflik yang pernah terjadi di Ambon, Maluku beberapa tahun silam. Sementara ia bermonolog, di latar belakang panggung tampak orang-orang baku hantam, sedang yang lainnya membawa semacam bungkusan dan mengungsi dalam siluet. Adegan ini membawa ingatan penonton pada konflik yang sempat mengoyakan masyarakat Ambon.

Penampilan Irfan disambung dengan musik dari Huanesa Etnika. Musik yang dimainkan kelompok musik pimpinan Maynard RN Alfons ini menjadi lambang perdamaian antara kelompok Islam dan Kristen yang terlibat dalam konflik ketika itu. Dalam booklet pertunjukan Maynard menjelaskan perdamaian itu direpresentasikan dengan menggunakan alat-alat musik yang dianggap mewakili masing-masing kelompok. Sawat yang biasanya terdiri dari suling dan rebana biasa mewakili kelompok Islam dan tifa toto buang yang berupa jejeran gong dari perunggu merupakan alat musik asli Maluku mewakili kelompok Kristen di Maluku. Maynard menjelaskan dirinya sengaja menggabungkan kedua alat musik itu untuk menggambarkan sebuah kondisi yang harmonis antara kedua belah pihak di Maluku.

Musik tradisional ini disambung dengan musik kontemporer, hip-hop, lewat penampilan kembali Molukka Hip-Hop Community. Ada yang menarik dari penampilan anak-anak muda ini, meski musik yang mereka mainkan adalah musik hip hop dan rap yang notabene tidak berakar dari budaya mereka, namun lirik lagu yang mereka nyanyikan bersumber dari seni sastra tradisional Maluku, Kapata dan Kapanya. Dalam booklet pertunjukan Frans Nendisa dari Molukka Hiphop Community menjelaskan Kapata adalah sastra prosa yang berisi nasihat nenek moyang agar penerusnya tidak lupa pada negeri asalnya. Musik menghentak dan heroik dari Molukka Hiphop Community membuat suasana panggung kembali menyala.

Percakapan santai-berisi ala warung kopi kembali hadir. Kali ini om Zeth dan om Koko, demikian mereka berdua menyebut dirinya, berbincang bersama sutradara pertunjukkan Glenn Fredly. Tak hanya mengumbar guyonan mereka juga membahas nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat Maluku, salah satunya persaudaraan pela gandong, yakni semacam perjanjian persaudaraan antar desa di Maluku.

Nilai persaudaraan ini menurut Glenn terwakili dalam lagu Pancasila Rumah Kita ciptaan almarhum Franky Sahilatua yang kemudian dibawakannya. Dan disusul dengan lagu Timur, sebuah lagu dari albumnya terdahulu, yang memiliki lirik dan spirit yang cocok dengan semangat yang diangkat dalam pertunjukan malam itu. Penampilan Glenn menjadi penutup konser dan lagu Rasa Sayange serta Pela Gandong yang dinyanyikan oleh seluruh musisi yang tampil malam itu mengakhiri pertunjukan.

 

~ by anita dhewy on June 16, 2011.

2 Responses to “Membaca Maluku Lewat Lagu”

  1. konsernya sangat mengagumkan, saya menonton langsung, dan memiliki DVDnya , selalu menginspirasikan tentang indonesia yang satu dan damai.

  2. iya, kesenian selalu melintasi batas. wah kamu punya dvd-nya juga ya, mantap deh. btw, kamu nonton yang kartolo mbalelo juga nggak? aku belum sempat nulis :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 213 other followers