Boxe Boxe: Ketika Tinju, Hip Hop dan Musik Menyatu
Apa jadinya ketika tinju, tari hip hop, seni bela diri, dan musik klasik berpadu dan muncul dalam satu panggung? Sebuah pentas tari hip hop yang segar dan menarik. Jawaban ini diberikan oleh kelompok tari hip hop dari Prancis, Käfig. Pentas berjudul Boxe Boxe ini digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Senin, 23 Mei lalu.
Sesuai judulnya, sepanjang pertunjukan sejumlah atribut yang berkaitan dengan dunia tinju muncul di atas panggung. Dari para penari yang mengenakan sarung tinju hingga samsak tinju baik – yang berukuran besar maupun kecil – dan ring tinju yang menjadi properti pertunjukan.
Pentas dibuka dengan panggung yang sederhana namun unik serta pencahayaan yang temaram. Sebuah kotak semacam ring tinju kecil berada ditengah, dan di bagian belakang serta kanan dan kirinya berdiri semacam pagar besi bermotif. Sementara empat pemain alat musik gesek duduk di kursi yang dirancang khusus dimana bagian untuk duduk dan tempat menaruh partitur menyambung menjadi satu. Kursi itu juga dilengkapi dengan roda, sehingga keempat pemusik ini dapat berpindah posisi menyesuaikan dengan setting panggung dan koreografi tarian sambil tetap memainkan alat musik. Sebuah desain yang fungsional sekaligus artistik.
Musik yang berasal dari suara biola, celo dan kontrabas itu mengalun liris menghadirkan suasana yang sedikit sendu. Namun sejurus kemudian berganti nada-nada menghentak dan dinamis. Dari dalam box ditengah panggung muncul tangan-tangan terbungkus sarung tinju berwarna merah. Tangan-tangan itu bergerak meliuk-liuk terkadang timbul tenggelam mengikuti irama musik.
Lampu yang semula temaram bersinar lebih terang dan dari dalam box itu kini tak hanya tangan saja yang kelihatan, namun juga tampak seluruh anggota badan para penari yang ikut bergerak sesuai alunan musik. Tak hanya gerakan yang “cantik” saja yang diperlihatkan, namun didalam kotak yang tak seberapa besar itu para penari juga memperlihatkan gerakan seolah-olah mereka sedang beradu. Saling tinju saling tonjok bahkan kadang dengan posisi jungkir balik, kaki berada di atas, namun semua itu dilakukan dalam gerakan yang indah.
Satu persatu para penari keluar dari kotak, mereka lalu beradu berdua-dua. Adegan kocak muncul saat salah satu penari mengenakan pakaian seperti badut dengan bagian perut yang menggembung dan berperan sebagai wasit. Nuansa humor begitu terasa di bagian ini. Musik yang dimainkan membuat suasana yang dibangun semakin hidup.
Dibagian selanjutnya dua penari laki-laki dan perempuan bergantian menunjukkan kemampuan mereka melakukan breakdance dengan gerakan patah-patah yang mengundang tepuk tangan penonton. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan samsak tinju kecil dan sebatang besi yang bisa digerakkan dengan lentur. Dari dua penari kemudian muncul penari-penari yang lain dan mereka bergerak dinamis, sesekali melompat, meninju atau meluncur. Ada juga bagian ketika dua penari muncul menarik tali merah yang berfungsi sebagai ring dengan ujung tali yang lain diikatkan pada kursi salah satu pemusik. Dan di dalam ring dua penari adu jotos layaknya petinju sedang bertarung.
Suasana sasana tinju sangat terasa. Apalagi ketika di salah satu bagian seorang penari menunjukkan kemampuannya sebagai seorang petinju yang berlatih dengan samsak tinju, selama lebih dari lima menit. Lalu penari-penari yang lain satu persatu muncul diatas panggung dan mereka kembali menyajikan gerakan-gerakan dinamis dan ritmis.
Dibagian yang lain seorang penari bergerak seolah-olah sedang bertarung sementara penari-penari yang lain berkeliling setengah lingkaran, mereka seolah-olah menjadi penonton, namun disaat yang lain mereka juga seolah-olah menjadi lawan yang menggunakan samsak kecil yang diacungkan pada penari yang di tengah lingkaran. Si penari juga menunjukkan kemampuannya melakukan handstand (gerakan dimana tangan menjadi tumpuan tubuh) dan freeze (posisi menahan gerakan dengan pose yang bagus) yang menawan hingga mengundang teriakan dan tepuk tangan penonton. Ia bergerak seolah-olah sedang bertarung hingga titik akhir, dan terkulai. Lalu panggung gelap dan pentas berakhir. Tepuk tangan pun menggema.
Ketika panggung kembali terang dan para penari yang berjumlah delapan orang serta sang koreografer berikut empat pemain musik kembali ke panggung, tepuk tangan kembali terdengar. Penonton seakan-akan belum ingin beranjak, bahkan ketika satu persatu penari dan pemusik meninggalkan panggung hingga hanya tersisa satu penari yang mengenakan pakaian seperti badut. Maka ia memberi kode pada para penari dan pemusik untuk kembali ke panggung dan memberi hormat kepada penonton. Ini berlangsung hingga dua atau tiga kali, dan tepuk tangan masih terus terdengar. Hingga akhirnya para penari memberi bonus pada penonton. Bukan sebuah koreografi tarian tentu saja, namun masing-masing penari menunjukkan kemampuan mereka masing-masing, melakukan breakdance, handstand, salto dan sejenisnya. Lalu layar menutup dan pertunjukkan benar-benar usai.
