Menjual kontroversi lewat silat lidah perempuan
Terdorong rasa penasaran atas iklan yang sempat saya lihat, akhirnya malam itu saya luangkan waktu untuk melihat silat lidah, acara talkshow atau bincang-bincang yang ditayangkan antv. Awalnya saya masih bisa enjoy, melihat dan mendengar komentar dan tanggapan para panelis atas permasalahan yang diajukan oleh pemirsa lewat email. Namun, lama-kelamaan saya merasa acara ini sekadar hiburan (kalau bisa disebut hiburan!) yang tidak menawarkan apa-apa.
Tampilnya para panelis perempuan adalah faktor awal yang membuat saya melirik program ini, namun apa yang tersaji dilayar kaca tampaknya masih belum beranjak dari frame umum yang selama ini dipakai industri media – televisi terutama – dalam merepresentasikan perempuan. Seperti diakui oleh Antonius Kelly Da Cunha, Eksekutif Produser Silat Lidah ketika ditanya alasan dipilihnya panelis perempuan, “Perempuan kan lebih menarik, lebih rame. Kami memang penginnya rame.” (Kompas, 2 Desember 2007). Pernyataan ini menyiratkan bahwa yang dipentingkan dalam acara ini hanya sekadar kemampuan bersilat lidah sementara isi argumen adalah prioritas kesekian. Asumsi ini jelas berangkat dari pandangan stereotip bahwa perempuan adalah sosok yang banyak bicara atau cerewet.
Dan apa yang dimaui oleh sang produser memang benar-benar terejawantahkan dalam setiap episode silat lidah. Para panelis saling timpal menanggapi isu yang dilempar Irwan Ardian, host acara. Apalagi aturan main dalam memberi tanggapan juga tidak terlalu diatur, boleh saling menyahut. Dan ketika perdebatan diantara para panelis semakin memanas, maka Irwan akan meniup peluit untuk mengakhiri perdebatan tersebut. Soal bagaimana jawaban atau solusi atas permasalahan yang ditanyakan menjadi tidak penting lagi karena yang dipentingkan adalah munculnya perdebatan panas diantara para panelis. Ini semakin menegaskan anggapan negatif yang ada di masyarakat bahwa perempuan hanya bisa bicara namun bukan pemberi solusi. Pun tanggapan salah satu panelis, Ratna Sarumpaet misalnya, cukup berisi, namun menjadi termentahkan oleh komentar-komentar Irwan Ardian yang negatif.
Harus diakui sebuah program seringkali tak bisa lepas dari setting, pun pula silat lidah. Tanggapan dari para panelis dan terutama host acara tidak bisa lepas dari arahan sang sutradara. Ini diakui oleh Irwan ketika ditanya soal gayanya dalam membawakan acara tersebut, “Saya dituntut tampil dengan karakter apatis, ‘machois’, dan menggunakan power sebagai lelaki.” (Koran Tempo, 25 November 2007). Pernyataan Irwan menyiratkan bahwa sebagai host acara, dirinya yang adalah laki-laki diposisikan sebagai seteru dari para panelis yang perempuan. Maka tak perlu heran jika sepanjang acara Irwan sering mencela para panelisnya, bukan hanya terhadap pendapat mereka saja namun juga perangai mereka. The main rule-nya adalah menjadi oposisi dan bukan partner.
Dengan kata lain acara ini memanfaatkan posisi dominatif-subordinatif antara laki-laki dan perempuan untuk memancing perdebatan bahkan kontroversi. Ketika perdebatan yang terjadi semakin memanas, maka diharapkan akan menyeret penonton untuk larut dalam perdebatan tersebut, yang pada akhirnya akan berujung pada persoalan perolehan rating. Kontroversi akan “memaksa” orang untuk mengambil posisi dan memberikan pendapat. Silat Lidah mengambil keuntungan dengan masuk lewat pintu tersebut. Tampaknya Silat Lidah berhasil jika dilihat dari banyaknya respon penonton baik yang mengirim pesan pendek dan ditampilkan dilayar televisi selama acara berlangsung maupun yang masuk ke website acara tersebut dan berkirim email. Bahkan menurut Kelly sejak digelar stripping atau setiap hari di Silat Lidah Pagi, email yang masuk per hari mencapai 200.000 atau 1,6 juta email dalam sebulan (Kompas, 2 Desember 2007). Namun jika dilihat satu per satu komentar-komentar tersebut cukup beragam mulai dari mencela, memuji, mengusulkan tema atau panelis baru, hingga memaki-maki.
Dengan hanya menjual kontroversi lewat perdebatan yang bisa melebar kemana-mana tanpa kesimpulan, maka jangan berharapĀ untuk mendapat solusi atau jawaban atas persoalan-persoalan yang dikemukakan. Sebagaimana tagline yang selalu dikatakan Irwan, “jangan pernah sakit hati” maka pemirsa ‘dipaksa’ untuk tak perlu terlalu serius menanggapi perdebatan tersebut karena tampaknya acara tersebut memang di-setting sebagai acara bincang-bincang yang ringan dan menghibur. Maka ketika acara ini selesai, tak akan ada apapun yang tertinggal di ingatan anda.
Dan walau menurut sang produser Silat Lidah menawarkan format bincang-bincang yang baru dengan memakai gagasan ngobrol dengan panelis, namun sebenarnya tak ada yang baru sama sekali di sini. Formula yang dipakai masih sama. Kontroversi diciptakan dengan asumsi stereotip atas perempuan dan laki-laki. Daya tarik masih dipusatkan pada perempuan — dengan label yang konvensional. Singkatnya, Silat Lidah masih berkubang pada pola yang sama yang ditawarkan oleh televisi kita selama ini.

kok ada lagi sekarang!!! apa gw yg jarang nonton tv yahhhhh