Akhirnya sabtu pekan lalu saya punya kesempatan melihat Sujiwo Tejo mendalang, setelah beberapa kesempatan sebelumnya terlewat karena alasan klasik (sok) sibuk. Berhubung saya menyukai lagu-lagu Sujiwo Tejo, maka melihat aksinya mendalang menjadi semacam hasrat yang terpendam. Jadilah Sabtu malam itu Dongeng Cinta Kontemporer II dengan judul Kasmaran Tak Bertanda yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta menjadi lakon pertama Sujiwo Tejo yang saya tonton.
Melihat Sujiwo Tejo mendalang adalah melihat eksplorasinya dalam berkesenian. Maka sepanjang dua jam pertunjukkan tersebut penonton dapat menyaksikan bagaimana adegan goro-goro diiringi dengan piano. Juga alunan suara merdu Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan yang mengiringi kisah cinta tersebut. Dan duet apik Sujiwo Tejo bersama Anda, vokalis yang pernah bergabung dengan band Bunga dan terlibat dalam soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta lewat single Tentang Seseorang. Serta nuansa jazz hasil ramuan musisi jazz tanah air Bintang Indrianto yang terasa mewarnai musik dan lagu dalam pertunjukkan ini. Selain itu sejumlah lagu Sujiwo Tejo bisa didengar dalam pentas malam itu. Maka Anyam-Anyaman, Pada Suatu Ketika, Lautan Tangis dan Bisma Gugur mengalun menyatu dengan jalinan cerita.
Eksplorasi yang dilakukan Sujiwo Tejo tidak terbatas untuk urusan musik saja, namun juga menyangkut soal teknis pementasan. Dengan layar di belakang panggung dan perangkat komputer yang menghasilkan gambar, maka siluet atau bayangan berfungsi sebagai latar cerita. Selain itu gambar-gambar yang ditampilkan juga berfungsi untuk memperkuat jalan cerita. Sehingga pentas malam itu bisa disebut semacam drama musikal wayang kontemporer.
Kisah ini berawal dari perhelatan yang digelar di negeri Astina untuk melantik Bisma sebagai raja menggantikan ayahnya Raja Sentanu. Perhelatan itu terhenti karena kedatangan seorang perempuan bernama Durgantini. Kedatangan Durgantini yang tak dikira sebelumnya itu bertujuan untuk menagih janji sang Raja. Pernah suata masa seorang perempuan menolong sang Raja yang terluka ketika sedang berburu di hutan. Untuk membalas jasanya Raja menjanjikan akan memenuhi apapun permintaan perempuan itu. Namun ia tak meminta apapun saat itu. Kini perempuan itu berdiri di hadapan sang Raja. Durgantini meminta agar pelantikan itu dibatalkan. Ia juga meminta agar anaknya yang adalah anak Raja Sentanu, Citrawirya menjadi raja menggantikan dirinya.
Karena cintanya pada sang ayah, Bisma pun rela menyerahkan tahtanya pada Citrawirya. Namun permintaan Durgantini tak hanya itu. Ia juga meminta Raja Sentanu untuk memastikan agar keturunan Bisma kelak tidak meminta haknya menjadi raja. Dan karena sayangnya pada sang ayah, maka Bisma pun bersumpah selibat. Karena sumpahnya, dewata menganugerahinya kesaktian yakni bisa menentukan kematiannya sesuai kemauannya sendiri.
Ada yang menarik dalam adegan ini. Ada bagian yang terlewat di adegan terakhir dalam babak pertama ini. Sesudah Bisma bersumpah seharusnya diikuti dengan duet lagu antara Sujiwo Tejo dengan Anda. Namun dalang nyentrik ini langsung saja hendak masuk ke babak selanjutnya. Entah mengapa Sujiwo Tejo lupa. Ketika ia tersadar ada bagian yang terlewat, dengan tanpa beban Sujiwo Tejo mengakuinya. Lantas ia pun mengajak personil yang lain untuk mengulang adegan tersebut. Kesalahan ini bisa diantisipasi Sujiwo Tejo dengan improvisasinya. Bahkan situasi itu ia jadikan sebagai kelakar. Sehingga kecelakaan ini tidak mengganggu jalannya cerita.
Sementara itu di kerajaan Kasi digelar sayembara untuk mendapatkan tiga perempuan, Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika. Prabu Salwa menjadi ksatria yang memenangi sayembara tersebut. Bisma yang datang untuk menyaksikan sayembara tersebut tertarik untuk ikut serta. Hingga akhirnya dikalahkannya Salwa, dan ia berhak mendapatkan ketiga perempuan tersebut.
Tiba-tiba Bisma teringat akan sumpah selibatnya. Sehingga ketiga perempuan itu diserahkan pada adik tirinya, Citrawirya. Ambika dan Ambalika bersedia dinikahkan dengan Citrawirya, namun tidak demikian dengan Amba. Ia menolak diserahkan pada Citrawirya. Penolakan Amba membuat hati Bisma bungah. Terbersit dibenaknya kalau Amba tertarik pada dirinya. Ya, sikap Amba membuat Bisma tertarik pada perempuan tersebut. Lantas ia pun bertanya mengapa Amba tidak mau diserahkan pada Citrawirya. Lalu keluarlah pengakuan Amba bahwa dirinya telah bertunangan dengan Salwa. Maka Bisma pun menyerahkan Amba pada Salwa. Namun Salwa menolak, karena baginya pemenang sayembara itu adalah Bisma, sehingga Bisma yang berhak mendapatkan Amba.
Karena ditolak Salwa, Amba kembali pada Bisma yang menyarankan agar Amba bersedia dinikahi Citrawirya. Ketika Amba datang pada Citrawirya dengan ditemani Bisma, Citrawirya menolak Amba. Harga diri Citrawirya muncul, ia tidak ingin selama hidupnya hanya menerima pemberian orang lain. Ketika Bisma berpikir untuk menyerahkan Amba pada lelaki maanapun yang ingin menikahinya, Amba yang membaca gelagat tersebut, berkata dengan tegas, ia tidak mau lagi diserahkan kepada siapapun. Dewi Amba pergi meninggalkan Bisma yang telah menyakiti hatinya dan mengacaukan hidupnya.
Ada sejumlah versi atas adegan ini. Ada versi yang mengatakan bahwa Dewi Amba bunuh diri. Sujiwo Tejo memberikan tafsir tersendiri. Dewi Amba bertapa di puncak Himalaya sambil merangkai bunga padma atau teratai sepanjang hidupnya. Sebelum meninggal ia bersumpah bahwa Bisma akan dibunuh oleh ksatria yang berkalung bunga padma. Kalung bunga ini selalu ranum meski telah usai dirangkai bertahun-tahun yang lalu.
Ya, ini adalah kisah tentang cinta dan perasaan yang rumit. Sujiwo Tejo mengatakan lakon ini dipersembahkan bagi siapapun yang percaya bahwa perempuan tak bisa ditebak. Tak ada yang tahu isi hati Dewi Amba ketika sedang merangkai bunga padma. Apakah cinta yang dianyam dalam tiap rangkainya ataukah dendam yang mengalir dan menanti saat pembalasan.
Sementara itu di Tegal Kuru Setra terjadi peperangan. Para Pandawa kalang kabut menghadapi Bisma dalam Baratayuda. Maka Kresna memberi petunjuk agar Srikandi berkalung bunga Padma.
Bisma yang bisa menentukan sendiri kematiannya tak ingin mati ditangan para ksatria yang menjadi lawannya, termasuk Arjuna. Namun ketika Srikandi maju dengan berkalung bunga padma berhadapan dengan dirinya, ia seakan melihat Dewi Amba. Bisma pun berpikir inilah waktunya. Maka ketika Srikandi memasang anak panah dan melepaskannya, Bisma rebah, ia gugur.
Arwah Bisma bertemu arwah Amba. Bunga padma bisa menjadi tanda cinta Dewi Amba kepada Bisma atau justru sebaliknya, dendam yang mengakhiri hidup Bisma. Ya, seperti judulnya, kasmaran atau cinta bisa saja tak bertanda namun juga bisa menyiratkan tanda sebaliknya. Sungguh, lakon cinta yang pelik dan panjang.
Pentas ini cukup memikat, namun ada hal yang mengganggu saya. Beberapa kali Sujiwo Tejo mengucapkan kalimat yang cenderung stereotip dan tak perlu. Kurang lebih kalimat itu berbunyi perempuan dimana saja sama, dikasih hati minta ampela, dikasih ampela minta yang lain. Saya rasa tak semestinya ia terjebak pada generalisasi semacam itu untuk menegaskan premisnya bahwa perempuan tidak mudah dipahami. Ada saat dimana saya kadang juga tidak mengerti laki-laki. Bagi saya soal ini bukan monopoli jenis kelamin tertentu.
