Mendengar Sujiwo Tejo mendongeng cinta

•November 24, 2009 • Leave a Comment

Akhirnya sabtu pekan lalu saya punya kesempatan melihat Sujiwo Tejo mendalang, setelah beberapa kesempatan sebelumnya terlewat karena alasan klasik (sok) sibuk. Berhubung saya menyukai lagu-lagu Sujiwo Tejo, maka melihat aksinya mendalang menjadi semacam hasrat yang terpendam. Jadilah Sabtu malam itu Dongeng Cinta Kontemporer II dengan judul Kasmaran Tak Bertanda yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta menjadi lakon pertama Sujiwo Tejo yang saya tonton.

Melihat Sujiwo Tejo mendalang adalah melihat eksplorasinya dalam berkesenian. Maka sepanjang dua jam pertunjukkan tersebut penonton dapat menyaksikan bagaimana adegan goro-goro diiringi dengan piano. Juga alunan suara merdu Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan yang mengiringi kisah cinta tersebut. Dan duet apik Sujiwo Tejo bersama Anda, vokalis yang pernah bergabung dengan band Bunga dan terlibat dalam soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta lewat single Tentang Seseorang. Serta nuansa jazz hasil ramuan musisi jazz tanah air Bintang Indrianto yang terasa mewarnai musik dan lagu dalam pertunjukkan ini. Selain itu sejumlah lagu Sujiwo Tejo bisa didengar dalam pentas malam itu. Maka Anyam-Anyaman, Pada Suatu Ketika, Lautan Tangis dan Bisma Gugur mengalun menyatu dengan jalinan cerita.

Eksplorasi yang dilakukan Sujiwo Tejo tidak terbatas untuk urusan musik saja, namun juga menyangkut soal teknis pementasan. Dengan layar di belakang panggung dan perangkat komputer yang menghasilkan gambar, maka siluet atau bayangan berfungsi sebagai latar cerita. Selain itu gambar-gambar yang ditampilkan juga berfungsi untuk memperkuat jalan cerita. Sehingga pentas malam itu bisa disebut semacam drama musikal wayang kontemporer.  

Kisah ini berawal dari perhelatan yang digelar di negeri Astina untuk melantik Bisma sebagai raja menggantikan ayahnya Raja Sentanu. Perhelatan itu terhenti karena kedatangan seorang perempuan bernama Durgantini. Kedatangan Durgantini yang tak dikira sebelumnya itu bertujuan untuk menagih janji sang Raja. Pernah suata masa seorang perempuan menolong sang Raja yang terluka ketika sedang berburu di hutan. Untuk membalas jasanya Raja menjanjikan akan memenuhi apapun permintaan perempuan itu. Namun ia tak meminta apapun saat itu. Kini perempuan itu berdiri di hadapan sang Raja. Durgantini meminta agar pelantikan itu dibatalkan. Ia juga meminta agar anaknya yang adalah anak Raja Sentanu, Citrawirya menjadi raja menggantikan dirinya.

Karena cintanya pada sang ayah, Bisma pun rela menyerahkan tahtanya pada Citrawirya. Namun permintaan Durgantini tak hanya itu. Ia juga meminta Raja Sentanu untuk memastikan agar keturunan Bisma kelak tidak meminta haknya menjadi raja. Dan karena sayangnya pada sang ayah, maka Bisma pun bersumpah selibat. Karena sumpahnya, dewata menganugerahinya kesaktian yakni bisa menentukan kematiannya sesuai kemauannya sendiri.  

Ada yang menarik dalam adegan ini. Ada bagian yang terlewat di adegan terakhir dalam babak pertama ini. Sesudah Bisma bersumpah seharusnya diikuti dengan duet lagu antara Sujiwo Tejo dengan Anda. Namun dalang nyentrik ini langsung saja hendak masuk ke babak selanjutnya. Entah mengapa Sujiwo Tejo lupa. Ketika ia tersadar ada bagian yang terlewat, dengan tanpa beban Sujiwo Tejo mengakuinya. Lantas ia pun mengajak personil yang lain untuk mengulang adegan tersebut. Kesalahan ini bisa diantisipasi Sujiwo Tejo dengan improvisasinya. Bahkan situasi itu ia jadikan sebagai kelakar. Sehingga kecelakaan ini tidak mengganggu jalannya cerita.  

Sementara itu di kerajaan Kasi digelar sayembara untuk mendapatkan tiga perempuan, Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika. Prabu Salwa menjadi ksatria yang memenangi sayembara tersebut. Bisma yang datang untuk menyaksikan sayembara tersebut tertarik untuk ikut serta. Hingga akhirnya dikalahkannya Salwa, dan ia berhak mendapatkan ketiga perempuan tersebut.

Tiba-tiba Bisma teringat akan sumpah selibatnya. Sehingga ketiga perempuan itu diserahkan pada adik tirinya, Citrawirya. Ambika dan Ambalika bersedia dinikahkan dengan Citrawirya, namun tidak demikian dengan Amba. Ia menolak diserahkan pada Citrawirya. Penolakan Amba membuat hati Bisma bungah. Terbersit dibenaknya kalau Amba tertarik pada dirinya. Ya, sikap Amba membuat Bisma tertarik pada perempuan tersebut. Lantas ia pun bertanya mengapa Amba tidak mau diserahkan pada Citrawirya. Lalu keluarlah pengakuan Amba bahwa dirinya telah bertunangan dengan Salwa. Maka Bisma pun menyerahkan Amba pada Salwa. Namun Salwa menolak, karena baginya pemenang sayembara itu adalah Bisma, sehingga Bisma yang berhak mendapatkan Amba.

Karena ditolak Salwa, Amba kembali pada Bisma yang menyarankan agar Amba bersedia dinikahi Citrawirya. Ketika Amba datang pada Citrawirya dengan ditemani Bisma, Citrawirya menolak Amba. Harga diri Citrawirya muncul, ia tidak ingin selama hidupnya hanya menerima pemberian orang lain. Ketika Bisma berpikir untuk menyerahkan Amba pada lelaki maanapun yang ingin menikahinya, Amba yang membaca gelagat tersebut, berkata dengan tegas, ia tidak mau lagi diserahkan kepada siapapun. Dewi Amba pergi meninggalkan Bisma yang telah menyakiti hatinya dan mengacaukan hidupnya.

Ada sejumlah versi atas adegan ini. Ada versi yang mengatakan bahwa Dewi Amba bunuh diri. Sujiwo Tejo memberikan tafsir tersendiri. Dewi Amba bertapa di puncak Himalaya sambil merangkai bunga padma atau teratai sepanjang hidupnya. Sebelum meninggal ia bersumpah bahwa Bisma akan dibunuh oleh ksatria yang berkalung bunga padma. Kalung bunga ini selalu ranum meski telah usai dirangkai bertahun-tahun yang lalu.

Ya, ini adalah kisah tentang cinta dan perasaan yang rumit. Sujiwo Tejo mengatakan lakon ini dipersembahkan bagi siapapun yang percaya bahwa perempuan tak bisa ditebak. Tak ada yang tahu isi hati Dewi Amba ketika sedang merangkai bunga padma. Apakah cinta yang dianyam dalam tiap rangkainya ataukah dendam yang mengalir dan menanti saat pembalasan.  

Sementara itu di Tegal Kuru Setra terjadi peperangan. Para Pandawa kalang kabut menghadapi Bisma dalam Baratayuda. Maka Kresna memberi petunjuk agar Srikandi berkalung bunga Padma.

Bisma yang bisa menentukan sendiri kematiannya tak ingin mati ditangan para ksatria yang menjadi lawannya, termasuk Arjuna. Namun ketika Srikandi maju dengan berkalung bunga padma berhadapan dengan dirinya, ia seakan melihat Dewi Amba. Bisma pun berpikir inilah waktunya. Maka ketika Srikandi memasang anak panah dan melepaskannya, Bisma rebah, ia gugur.

Arwah Bisma bertemu arwah Amba. Bunga padma bisa menjadi tanda cinta Dewi Amba kepada Bisma atau justru sebaliknya, dendam yang mengakhiri hidup Bisma. Ya, seperti judulnya, kasmaran atau cinta bisa saja tak bertanda namun juga bisa menyiratkan tanda sebaliknya. Sungguh, lakon cinta yang pelik dan panjang.    

Pentas ini cukup memikat, namun ada hal yang mengganggu saya. Beberapa kali Sujiwo Tejo mengucapkan kalimat yang cenderung stereotip dan tak perlu. Kurang lebih kalimat itu berbunyi perempuan dimana saja sama, dikasih hati minta ampela, dikasih ampela minta yang lain. Saya rasa tak semestinya ia terjebak pada generalisasi semacam itu untuk menegaskan premisnya bahwa perempuan tidak mudah dipahami. Ada saat dimana saya kadang juga tidak mengerti laki-laki. Bagi saya soal ini bukan monopoli jenis kelamin tertentu.

Menjaga keberagaman, merawat kehidupan

•November 17, 2009 • Leave a Comment

Layar terbuka musik mengalun dan panggung dipenuhi sejumlah drum plastik berwarna hitam dalam posisi tidur. Dua anak berpakaian hitam-hitam, berambut panjang dan berkalung manik-manik kayu merangkak ke tengah panggung. Mereka bergerak mengikuti musik yang menghentak. Dari berdua, satu demi satu jumlah mereka bertambah hingga menjadi delapan orang. Mereka terus bergerak, menari dan sesekali menabuh drum-drum plastik tersebut. Lalu perlahan mereka bergerak meninggalkan panggung. Kedelapan anak dalam busana hitam tersebut adalah sang kala yang melambangkan kekuatan jahat.

Seiring dengan kepergian sang kala, dari sudut panggung tiga orang anak tampak berjalan mengendap-endap sambil membawa lentera. Mereka memperbincangkan sang kala dan amanat yang harus mereka pegang untuk terus berjaga karena ibu pertiwi sedang hamil tua. Menarik mendengarkan percakapan yang terjadi diantara mereka. Salah seorang dari mereka mempertanyakan mengapa mereka, anak-anak, yang harus mendapat amanat tersebut. Temannya yang lain menjawab bahwa orang dewasa sebenarnya mendapat amanat yang sama. Namun mereka – orang-orang dewasa – banyak yang tidak peduli karena jiwa mereka telah dirasuki sang kala.

Maka mereka mencoba mencari para bijak yang digambarkan dalam sosok perempuan dalam busana putih dengan selendang kuning. Para bijak ini merupakan simbol kebaikan. Dua kekuatan ini selalu berseteru memperebutkan pengaruh. Maka dalam salah satu adegan digambarkan bagaimana sang kala dan para bijak bertarung.

Apa yang diperbincangkan anak-anak tersebut adalah kritik atas apa yang sedang terjadi pada masyarakat kita saat ini. Sejumlah persoalan yang mengemuka tak lepas dari peran orang dewasa. Salah satu persoalan yang dibidik Sanggar Akar dalam pentas kali ini adalah masalah keberagaman yang akhir-akhir ini menjadi isu krusial seiring dengan menguatnya fundamentalisme. Maka dalam pentas operet yang merupakan produksi keenam belas tersebut, Sanggar Anak Akar mengangkat judul Swara Bianglala (Spirit of Living in Harmony).

Dan mengalirlah kisah Bianglala atau Bela, seorang anak yang dikondisikan oleh ibunya untuk menjadi anak yang patuh dan penurut. Ibunya berharap kelak Bela bisa mewujudkan keinginan orang tuanya. Sehingga ia harus menuruti semua perintah ibunya. Bela harus belajar di rumah dan ikut kursus ini itu sepulang sekolah serta melarangnya bergaul dengan anak-anak lain dari kampung Sukawarna. Belapun disekolahkan di sebuah sekolah yang hanya menerapkan satu warna bagi murid-muridnya.

Warna disini menjadi simbol bagi upaya penyeragaman. Jika kita mau jujur, maka sebenarnya formalisme kesegaraman semacam itu sudah menjadi fenomena keseharian. Tentu sangat mengkhawatirkan ketika anak-anak yang spontan dan polos itu sudah diajari untuk membuat jarak dengan “yang lain”, yang diluar diri atau kelompoknya. Dan ironisnya lembaga pendidikan ikut berperan dalam proses tersebut. Sayangnya gejala ini yang justru muncul akhir-akhir ini.

Operet yang naskahnya ditulis dan disutradarai Ibe Karyanto ini sarat dengan gugatan dan kritik sosial. Ia mengkritik kecenderungan orang tua yang memposisikan anak sebagai obyek yang tidak tahu apa-apa. Sehingga anak diharuskan tunduk patuh pada kehendak orang tua yang menganggap dirinya lebih tahu segalanya. Operet ini juga mengkritik bagaimana lembaga pendidikan telah menjadi institusi yang melenceng dari fitrahnya. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana pembebasan justru berfungsi sebaliknya lewat upaya penyeragaman yang dilakukan secara sistematis.

Namun Ibe tak hanya mengkritik. Ia juga menawarkan solusi. Maka lihatlah dalam operet itu bagaimana suasana kampung Sukawarna. Anak-anak bermain, bernyanyi, dan belajar dalam keceriaan. Tawa, canda, celoteh yang lepas dan bebas mewarnai keseharian mereka. Suasana inilah yang membuat Bela ingin selalu bermain dan belajar bersama mereka. Sayang, ibunya selalu melarang Bela bergaul dengan anak-anak dari kampung Sukawarna dan memaksanya pulang ke rumah jika didapatinya sedang bermain bersama mereka. Namun selayaknya anak-anak yang selalu mengikuti kata hatinya, Bela tak putus asa mencari cara agar dapat bermain dengan anak-anak kampung sukawarna.

Hingga ketika Bela sedang bernyanyi menyuarakan isi hatinya bersama anak-anak kampung sukawarna, ibunya yang sedang mencarinya, mendengar jeritan hati Bela tersebut. Ketika itulah ibunya sadar jika tindakannya selama ini salah.

Seperti halnya bianglala atau pelangi yang dengan beragam warna yang dimilikinya menunjukkan keindahan, operet ini tampak ingin menegaskan bahwa perbedaan adalah fitrah yang tak seharusnya dihindari atau bahkan dihilangkan. Sementara disisi lain keseragaman tak musti menjadi keharusan.

Selain akting anak-anak yang natural, sepanjang dua jam pertunjukkan penonton juga disuguhi musik yang apik. Walau sayangnya dalam beberapa adegan suara musik terdengar lebih keras dibandingkan dialog pemain. Musik apik ini tidak hanya berasal dari alat musik standar seperti gitar, bas, biola, flute, keyboard, drum, djembe dan drum perkusi saja. Namun barang-barang bekas yang kadang terlihat tidak berguna juga bisa menghasilkan bunyi-bunyian yang indah. Maka kusen jendela, bemper mobil, drum bekas, kotak kayu, bisa menjadi sebuah harmoni. Inilah yang selalu menjadi daya tarik Sanggar Akar dalam setiap pentasnya. Bahkan suara bakiak yang digunakan ibu-ibu kampung sukawarna dengan papan pencuci pakaian dan sikat baju-nya juga bisa menghasilkan nada yang merdu.

Lewat musik yang merupakan bahasa universal, Ibe Karyanto menunjukkan perbedaan bisa menghasilkan harmoni yang indah, tanpa perlu membuatnya menjadi sama. Karena setiap perbedaan mengandung potensi dan kearifannya masing-masing.

Mempertanyakan identitas lewat karya Mella Jaarsma

•November 6, 2009 • Leave a Comment

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata fitting room? Lupakan gambaran tentang kamar pas yang biasa anda jumpai di butik atau mall dimana anda bisa mencoba sejumlah pakaian yang akan anda beli. Dan jangan berharap akan menemukan ruang semacam itu dalam pameran Mella Jaarsma yang bertajuk The fitting room yang digelar di Galeri Nasional dari 27 Oktober hingga 8 November mendatang.

Fitting room Mella Jaarsma bicara tentang identitas yang seringkali berpilin baik dalam label agama, suku, ras, kelas sosial, kelompok kepentingan dan sejenisnya. Persoalan ini yang terasa membingkai karya-karya Mella yang tampil dalam format instalasi, video, fotografi, dan lukisan yang diciptakan sejak 1993.

Dalam karyanya yang berjudul refugee only, Mella menampilkan semacam kostum yang tampak lebih mirip sebuah tenda daripada pakaian. Kostum tersebut terdiri dari dua jenis, yang pertama terbuat dari kulit yang dilengkapi sejumlah gesper di seluruh bagian dengan label sejumlah merk ternama. Kostum kedua terbuat dari sejenis kain terpal berwarna hijau, yang hanya memperlihatkan bagian mata dan sebagian tangan, sementara bagian yang lain tertutup rapat. Di bagian dalam kostum tersebut terdapat kantong-kantong yang digunakan untuk menyimpan piring, gelas, sikat gigi, juga shampoo. Selain itu sebuah rosario dan tasbih tampak tergantung disana. Dengan bentuk mirip tenda yang hanya cukup dipakai untuk satu orang dengan posisi berdiri, maka karya ini tampak seperti kostum sekaligus tenda.

Kostum yang juga berfungsi seperti tenda tersebut seolah menegaskan keberadaan pengungsi yang bermigrasi dari tempat asalnya. Sementara simbol agama yang dimunculkan mengisyaratkan bagaimana identitas bisa tetap melekat dimanapun seseorang berada selama simbol-simbol yang merujuk pada satu kelompok agama atau budaya tertentu tersebut tetap dikenakan.

Agak mirip dengan konsep yang digunakan dalam refugee only, dalam karya instalasi dan video berjudul Shelter Me I-IV, Mella menampilkan semacam shelter yang juga sekaligus bisa berfungsi sebagai kostum. Bisa dibilang instalasi ini menggabungkan antara karya arsitektur dengan pakaian. Sesuai dengan namanya – shelter yang merupakan tempat berlindung atau bernaung – instalasi ini mirip rumah dalam bentuk yang sangat sederhana. Terbuat dari material kayu, kulit kayu, seng, dan kain, Shelter menampilkan kerangka bangunan dari kayu yang dilengkapi dengan atap dan kostum yang terbuat dari baju tentara, kulit kayu, sejenis kulit dengan motif-motif tato dan kain dengan cetak digital. Shelter ini juga hanya bisa menampung satu orang dalam posisi berdiri. Seperti karya instalasinya yang berwujud kostum, semua instalasi ini hanya menampakkan bagian mata.

Dengan penyatuan antara kostum dan konstruksi yang mirip rumah, instalasi ini mengingatkan saya pada makhluk bernama keong yang selalu membawa-bawa rumahnya kemanapun dia pergi. Terlebih dalam rekaman video diperlihatkan bagaimana seorang model ’mengenakan’ salah satu shelter dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Disisi lain karya ini juga mengingatkan saya pada kecenderungan masyarakat modern yang memiliki mobilitas yang tinggi. Pergerakan manusia menjadi tak lagi terbatas dan dalam proses tersebut identitas yang melekat pada dirinya yang termanifestasikan dalam wujud kostum atau pernak-pernik yang lain juga ikut mengalami perpindahan.

Sementara dalam karyanya yang berjudul SARA-swati, Mella menampilkan kostum yang berbentuk seperti jubah yang terbuat dari batang pohon pisang kering yang dianyam. Kostum ini hanya memperlihatkan bagian mata dan menutup bagian tubuh yang lain. Dibagian depan tampak jari-jari tangan yang menyerupai telunjuk mencuat keluar. Pemilihan nama dan cara penulisan karya instalasi ini merujuk pada dua hal sekaligus. Saraswati, nama salah satu dewi dalam tradisi Hindu dan SARA, terminologi yang digunakan orde baru untuk ‘mengelola’ konflik horizontal. Sara adalah kepanjangan dari suku, agama, ras, dan antar golongan. Keempat hal tersebut adalah isu sensitif yang seringkali dihindari sebagai topik pembicaraan.

Instalasi ini mengingatkan saya pada sejumlah konflik antar suku dan etnis yang terjadi selama satu dekade terakhir. Sesudah tragedi Mei 1998 dimana sejumlah etnis tionghoa diperkosa dan dibunuh dalam kerusuhan yang memaksa presiden kedua RI, Suharto mengundurkan diri, sejumlah konflik etnis muncul di berbagai daerah. Konflik tersebut seringkali membuat masing-masing kelompok saling tuding dan menyalahkan. Seperti jari-jari tangan yang menerobos keluar jubah dan menuding kearah pihak lain.

Dalam konteks ini identitas menjadi penanda penting yang membedakan antara satu kelompok dengan kolompok lain. Namun dalam instalasi berjudul The follower, Mella menunjukkan bahwa identitas tidak bersifat tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat secara bersamaan dalam diri seseorang. Dalam the follower, Mella menampilkan kostum berupa jubah yang terbuat dari emblem yang disambung dengan dijahit hingga membentuk seperti jubah. Emblem yang dipakai merupakan lambang sejumlah organisasi, seperti emblem lambang perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, klub pecinta olahraga, kelompok minat dan sejenisnya. Seperti kostum-kostum yang lain, the follower juga hanya menampilkan bagian mata saja dan menutup rapat bagian tubuh yang lain.

Lewat karya ini Mella seolah menegaskan bahwa identitas yang melekat pada diri seseorang tidaklah tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat pada diri seseorang pada saat yang sama. Bila ditarik lebih luas, maka hal ini bisa berlaku juga untuk konteks sebuah bangsa. Bagi saya karya ini sangat menggelitik. Saya jadi teringat upaya yang dilakukan sekelompok golongan beberapa waktu terakhir yang mencoba memaksakan lewat berbagai cara sebuah nilai, sebuah identitas, sebuah kultur sebagai nilai, identitas dan kultur tunggal bangsa ini karena menurut kelompok tersebut nilai dan identitas itu mewakili kelompok agama mayoritas di negeri ini.

Lewat kostum, tenda, dan shelter, Mella menegaskan bahwa identitas bukan sesuatu yang fixed, sebaliknya identitas bersifat cair. Sebuah kostum bisa mengidentifikasi seseorang sebagai bagian atau anggota kelompok agama, sosial dan budaya tertentu. Menarik mencermati kecenderungan Mella untuk mengambil bentuk jubah atau kerudung dalam sejumlah karyanya. Kerudung atau jubah bisa menjadi penanda yang mengasosiasikan pemakainya dengan identitas tertentu. Disisi lain kostum tersebut juga bisa menyembunyikan identitas pemakainya. Lewat karya-karyanya Mella mengajak kita mempertanyakan identitas yang seringkali menjadi pemicu konflik dan persoalan.

bilakah kau sadari

•August 25, 2009 • Leave a Comment

satu hari tlah terlewati
sebuah asa tlah coba dihidupi
meski mungkin tak jua kau pahami

satu hari kembali menanti
asa ini belum hendak mati
entah kapan kau mau mengerti

adakah juga

•February 25, 2009 • Leave a Comment

lalu tanpa direncana dirimu hadir begitu saja
penuhi ruang ruang pikiran di tiap pejam mata
pun kala terjaga tanpa kutahu mengapa

lalu tanpa peringatan ada getar terasa
yang hangatkan ujung ujung indra di tiap jumpa
dan entah mengapa gundah meraja bila tak bersua

lalu tanpa memaksa
kuajukan sebuah tanya
adakah juga kau rasa

Single Happy

•February 18, 2009 • Leave a Comment

Bukan semata oppie andaresta yang membuat saya menyukai single happy, lagu terbarunya. Oppie tentu menjadi faktor signifikan mengingat dia salah satu penyanyi favorit saya. Perpaduan antara vokal yang berkarakter, kemampuan mencipta lagu, dan gaya yang khas adalah sederet alasan untuk menempatkan oppie dalam daftar penyanyi favorit dan tak mengabaikannya di tengah booming penyanyi baru. Namun terlepas dari semua itu, lagu ini bisa dibilang memiliki ikatan yang cukup emosional lantaran seperti menyuarakan isi hati saya saat ini.

Masih melajang hingga usia 30 tahun sejujurnya tidak menjadi beban buat saya. Ada cukup banyak alasan untuk tidak membuat saya tidak bahagia. Singkat kata saya tetap enjoy menjalani hari-hari saya. Namun sebaliknya, justru orang-orang di sekitar saya yang mulai risau, terutama orang tua saya. Dengan latar belakang kedua orang tua saya yang cukup konvensional, maka urusan menikah menjadi soal penting buat mereka.

Selama ini saya merasa sungguh sangat bersyukur tidak terlahir sebagai anak pertama. Karena artinya segala tetek bengek yang berkaitan dengan ‘tuntutan sosial’ yang standar, termasuk salah satunya urusan menikah, menjadi berlaku lebih longgar buat saya. Namun saya tak bisa mengelak juga dari persoalan tersebut ketika hingga saat ini saya memasuki usia kepala tiga masih bertahan dengan status single. Maka ketika saya berulang tahun beberapa pekan yang lalu, ibu saya menelpon untuk memberi ucapan selamat dan ini yang paling penting, menanyakan hal ihwal kekasih saya yang akhirnya berujung pada persoalan umur saya yang sudah kepala tiga dan masih single.

Seperti lirik lagu oppie, persoalan umur ini juga yang menjadi pintu masuk ibu saya ketika membicarakan hal tersebut. Argumen ibu berangkat dari aspek biologis dan kesehatan. Menurutnya perempuan memiliki umur biologis, maka menjadi terlalu riskan jika menikah diatas 30 tahun dan bla bla bla yang lain. Sementara menurut saya kemajuan teknologi di bidang kedokteran saat ini bisa menjadi jawaban atas kekhawatiran ibu saya. Lagipula bila muaranya adalah masalah anak, saya rasa pertalian darah bukan satu-satunya jawaban. Begitulah, setiap argumen yang disampaikan ibu selalu saya tanggapi dengan jawaban-jawaban yang bisa diterima nalar. Pada intinya saya tidak ingin ibu saya risau memikirkan anak perempuannya yang terakhir yang belum menikah.

Buat saya pasangan jiwa itu akan datang dengan sendirinya. Bukan dalam arti kepasrahan dalam konsepsi sebagai kodrat yang terberi. Namun dalam pemahaman bahwa dari interaksi keseharian dan pertemanan kita dengan banyak orang, secara dialektis akan membawa kita pada relasi yang lebih personal ketika menemukan titik persinggungan pada wilayah yang menjadi perhatian bersama yang pada akhirnya akan membawa masing-masing pada satu titik pijak bersama. Di sinilah menurut saya ungkapan indah pada waktunya menemukan nyawanya.

Dan kalau bicara masalah kebahagiaan, karena bukan suatu kondisi yang terberi begitu saja, maka bisa diupayakan untuk dicapai baik ketika dalam kondisi single maupun tidak. Dengan kata lain kebahagiaan dan status tidak selalu berbanding lurus.

Oppie bisa merepresentasikan apa yang dirasakan para lajang seperti saya dengan tepat. Apa yang saya rasakan saat ini bisa terangkum dengan indah dalam lirik-lirik lagunya. Jadi, makasih oppie buat lagunya yang indah.

jatuh

•October 4, 2008 • Leave a Comment

tak ada yang berubah dengan detak sang waktu
ketika hadirmu menjadi denting yang porak porandakan melodi hatiku
hingga tak ada yang bisa kulakukan
selain biarkan diri menari dalam alunan getar yang tercipta

unfinished searching

•October 1, 2008 • Leave a Comment

jika waktu adalah bentang ruang dan jarak
maka musim kan jadi saksi
panjang perjalanan yang kutempuh tuk menggapaimu

mati rasa

•April 28, 2008 • Leave a Comment

sesungguhnya hanya sejenak jarak yang kuminta
sedikit ruang untuk berbincang sendiri dan membalur rasa
dan tak ada yang berkurang secuilpun daripadamu karenanya
kecuali mungkin sejengkal waktu kebersamaan kita
karna tak ingin lari dari kenyataan bahwa pertemanan adalah keniscayaan
dan tak hendak mengelak dari rasa yang telah menjadi sejarah
namun kau sebar ucap tentang aku yang diam tanpa sebab
dan persalahkan diriku seolah kau seorang asing
aroma imaji bernada minor tercipta dan meruap di angkasa
lalu terburailah jaring jaring ikatan dan koyakkan jalinan pertemanan
lalu kata jadi hampa
lalu tawa jadi senyap
lalu makna jadi hilang
lalu kosong
lalu sunyi
lalu mati
lalu

melukis ingatan

•April 14, 2008 • Leave a Comment

seperti kilat menyambar yang cairkan waktu dari kebekuan
aku terjaga dan temukan diri terlempar dalam gerbong waktu yang melaju kencang
seperti sebuah perjalanan rahasia yang menawarkan kejutan entah di stasiun keberapa
dengan segala kemungkinan membentang yang memaksa diri untuk slalu berjaga
karna ajal tak bisa ditawar namun tak pernah bisa dipastikan
entah mengapa aku teringat sisyphus dengan bongkah batu dan puncak bukit yang slalu kembali di daki

sementara berbagai peristiwa berkelebatan seperti kepak sayap kupu memintal angin dan jadikan badai
tak jarang seperti gemuruh guntur yang tinggalkan lubang di semesta
namun ingatan tak sekokoh waktu yang mengabur bersama alpa dan lupa
maka kulukis ingatan dan membingkai waktu
hingga merah hitam putihnya kehidupan tak lalu bersama angin
karna kita dikutuk menulis sejarah sendiri