Selembar Formulir Dan Perempuan Yang Tak Dianggap Subyek

•November 23, 2011 • 2 Comments

 

Mungkin itu hanya selembar kertas, yang bisa jadi bagi banyak orang tak berarti apa-apa. Kertas itu tepatnya sebuah formulir yang harus diisi oleh pasien rawat jalan di sebuah rumah sakit di bilangan Salemba. Namun formulir itu mampu membuat kening saya berkerut dan mengusik pikiran saya. Sebelum berpanjang lebar ada baiknya saya memberi sedikit gambaran atas situasi yang ada.

Pagi itu saya perlu menemui dokter karena ada benjolan kecil semacam kutil di telapak jari telunjuk kanan saya. Dokter di bagian umum menyebutnya mata ikan. Apapun namanya yang jelas benjolan itu mengganggu dan terasa sakit jika tersenggol, hingga memaksa saya menemui dokter. Dari dokter umum di balai pelayanan kesehatan, saya dirujuk ke dokter spesialis bedah.

Nah, disinilah ketika proses mendaftar sebagai pasien rawat jalan, saya disodori formulir yang harus diisi. Di dalam formulir tersebut, dari sejumlah pertanyaan standar seperti nama pasien, tempat/tanggal lahir, alamat dan sejenisnya, ada satu pertanyaan yang mengganggu saya, yakni pertanyaan tentang nama orang tua/suami.

Membaca kalimat itu tak bisa tidak membuat saya terusik. Selintas memang tampak tak ada yang aneh. Sepertinya wajar saja jika seorang pasien ditanya nama orang tuanya. Kita bisa saja berandai-andai positif, meski mungkin terlalu jauh, bahwa jika misalnya si pasien berada dalam situasi darurat, maka pihak rumah sakit bisa menghubungi keluarga pasien. Apalagi jika pasien ini belum tergolong dewasa, maka perlu untuk mengetahui identitas orang tua pasien.

Namun opsi nama suami yang ditanyakan memunculkan pertanyaan mengapa, ya, mengapa hanya tertulis nama orang tua/suami dan bukan nama orang tua/suami/istri? Membaca pertanyaan nama orang tua/suami, maka asumsi awal yang akan muncul adalah pertanyaan ini lebih ditujukan bagi pasien berjenis kelamin perempuan!

Ada dua hal penting disini. Pertama, pertanyaan siapa nama suami menunjukkan bahwa seorang perempuan yang sudah bersuami, keberadaannya akan dikaitkan atau dilekatkan pada sosok sang suami. Ia tidak diperhitungkan sebagai seorang pribadi yang utuh, sebagai subyek yang berdaulat atas dirinya.

Jika dasar pemikirannya adalah pertimbangan praktis seperti yang saya paparkan di atas terkait pertanyaan nama orang tua, maka seharusnya pertanyaan yang diajukan bukan hanya nama orang tua/suami. Dengan hanya mengajukan pertanyaan nama orang tua/suami, maka disisi lain pertanyaan ini sekaligus juga menegaskan proposisi yang sebaliknya bahwa seorang laki-laki yang sudah menikah tidak harus diidentifikasi dengan sang istri. Ia bisa menjadi subyek yang independen, berdiri sendiri dan tak harus terkait dengan sang istri.

Dalam konteks yang tidak jauh berbeda, situasi ini mengingatkan saya pada kebiasaan yang berlaku di masyarakat kita, dimana ketika seorang perempuan sudah menikah, maka seringkali ia akan dipanggil dengan nama sang suami. Dalam beberapa kasus, bahkan bisa dikatakan perempuan tak lagi memiliki namanya sendiri. Identitas seorang perempuan seolah-olah melebur, hilang, dan berganti dengan identitas yang baru, identitas suami.

Kembali pada pertanyaan tentang nama orang tua/suami, poin penting yang kedua adalah, pertanyaan ini menegaskan bahwa untuk urusan yang bersifat publik, posisi perempuan dilihat sebagai bagian dari laki-laki (entah orang tua – dalam hal ini ayah, entah suami). Ia bukan individu yang otonom.

Jadi, pertanyaan yang tampak sederhana tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai sebuah pertanyaan biasa yang tak punya pretensi apapun. Pertanyaan tersebut tentu tak muncul begitu saja, ada konteks yang membentuk dan melatarinya. Karena bahasa sendiri tidaklah netral, sebaliknya, bahasa seringkali tercelup dalam ideologi. Bahasa mencerminkan cara berpikir, ideologi, dan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat, dalam hal ini masyarakat patriarki.

Posisi perempuan yang terpinggirkan dalam bahasa tidak terlepas dari konsep phallogocentrism, dimana model pemikiran dan bahasa yang berlaku dalam sistem patriarki berpusat pada phallus. Laki-laki adalah Diri (self), perempuan adalah Liyan (other). Karena itu, perempuan ada dalam dunia laki-laki dengan istilah laki-laki.

Struktur bahasa phallogosentris ini, yang dianggap sebagai struktur dasar sebagian besar bahasa dunia Barat, berintikan konsep oposisi biner yang dikotomis dan hierarkis. Mempertentangkan dua konsep: laki-laki/perempuan, suami/istri, publik/privat, rasional/irrasional, baik/buruk, dan sebagainya, dengan kata yang disebut pertama, yang identik dengan laki-laki, dipandang lebih tinggi atau lebih baik dari kata kedua yang identik dengan perempuan. Sistem bahasa yang demikian jelas tidak berpihak pada perempuan.

Pertanyaan tentang nama orangtua/suami menggambarkan bagaimana ideologi patriarki direproduksi dengan medium bahasa lewat urusan yang bersifat administratif. Apa yang saya temui hari itu bisa dikatakan hanya satu contoh kecil. Sangat mungkin praktek serupa juga terjadi untuk urusan administrasi yang lain, bahkan juga diluar urusan administrasi.

 

Kutukan Kudungga: Keserakahan Membawa Petaka

•October 31, 2011 • Leave a Comment

 

Mengangkat persoalan perusakan alam dalam balutan komedi satir, Butet Kartaredjasa bersama tim Indonesia Kita menggelar pentas Kutukan Kudungga, Raja Salah Raja Disembah pada 23 dan 24 September lalu di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Mengambil setting Kalimantan, lakon yang disutradarai Djaduk Ferianto ini berangkat dari dongeng atau legenda di Kalimantan. Tak hanya menyuguhkan lakon teater, pentas ini juga menampilkan sejumlah penari dari Samarinda dan band metal dari Kalimantan, Kapital Band, serta anak-anak Kandang Joerank Doank.

Dari katalog pertunjukkan dijelaskan legenda atau dongeng Kutukan Raja Kudungga ini merupakan semacam peringatan bagi siapa pun agar tidak mengambil kekayaan alam yang ada di kerajaannya untuk kepentingan sendiri. Kisah yang menjadi inspirasi pentas kelima pertunjukkan Indonesia Kita ini dipadu dengan lakon Dhemit yang pernah ditulis almarhum Heru Kesawa Murti untuk Teater Gandrik. Agus Noor melanjutkan penulisan naskah setelah Heru Kesawa Murti meninggal dunia ketika proses persiapan pertunjukkan ini dimulai.

Dikisahkan sekelompok dhemit merasa cemas karena terusik ulah manusia yang seenaknya mengeksploitasi hutan tempat mereka tinggal. Para dhemit itu merasa terancam dan tergusur hingga kemudian mengadu kepada roh leluhur. Tetapi mereka harus menghadapi kenyataan bahwa zaman telah berubah, dimana orang-orang yang salah justru paling lantang bicara tentang kebenaran, zaman ketika para pemimpin yang salah justru disembah.

Disisi lain dikisahkan pula Marwoto, seorang pekerja CV Babat Alas, merasa resah atas proyek pembabatan dan penambangan hutan yang dilakukan perusahaannya. Namun sebagai bawahan, ia tak dapat berbuat banyak, terlebih si bos pemilik perusahaan, Susilo, yang berambisi mengeruk kekayaan bumi Kalimantan, tak mau tahu. Keresahannya semakin menjadi ketika ia merasa diganggu oleh para dedemit, bahkan ia sempat bertengkar dengan sang istri dan harus kehilangan anak karena diculik para dhemit.

Puncaknya Marwoto memutuskan berhenti dari proyek tersebut. Sedang Susilo yang kadung serakah dan tak percaya hal-hal mistis tetap bertekad meneruskan proyek pembabatan dan penambangan hutan bersama asistennya. Mereka tak menghiraukan peringatan Marwoto dan membawa pergi kekayaan alam Kalimantan yang telah dikeruk hingga akhirnya tertimpa kutukan.

Dengan gaya khas teater Gandrik yang penuh guyonan dan plesetan yang mengundang tawa, sindiran dan kritik mengalir dari dialog para pemain. Percakapan para dhemit yang marah atas ulah manusia yang merusak hutan dengan mulus berbaur dengan sindiran terhadap partai politik, pemerintah, dan situasi sosial politik aktual. Begitu juga dengan percakapan antara Marwoto dengan Susilo dan asistennya. Berbagai persoalan dan isu politik yang sedang menjadi sorotan, mereka olah menjadi bahan sindiran yang bisa memerahkan telinga sekaligus mengundang tawa.

Lakon ini juga diselingi sejumlah tarian khas Kalimantan seperti tari Enggang yang dibawakan oleh para penari dari Samarinda. Selain itu band anak muda Kalimantan Timur yang beraliran metal, Kapital Band juga ikut menggebrak panggung dengan lagu-lagu mereka. Sementara urusan musik dalam pementasan ini digarap oleh Djaduk Ferianto bersama kelompok musik yang dipimpinnya, Kua Etnika.

Pentas juga dimeriahkan oleh penampilan anak-anak Kandang Jurank Doank asuhan Dik Doank yang menyanyikan sejumlah lagu ciptaan Dik Doank dengan iringan permainan musik dari Perkusi Kalenk Rombenk. Musik yang riang dengan lirik lagu yang ‘nakal’ dan cerdas ditingkah penampilan anak-anak yang ceria, membuat penampilan mereka memberi kesan tersendiri. Tak hanya bernyanyi bersama anak asuhnya, Dik Doank juga ikut menyumbangkan suara bersama bank Alakadar.

Meski pementasan ini dipenuhi dengan kritik segar yang mengundang tawa, namun untuk ending, Djaduk tampak memilih untuk memberi keleluasaan pada penonton. Kutukan yang menimpa Susilo dan asistennya tidak diwujudkan secara nyata. Sehingga kutukan itu terlihat sebagai sebuah bentuk peringatan.

 

Kolaborasi Balawan dan Maestro Gamelan Bali

•October 27, 2011 • Leave a Comment

 

Gitaris berdarah Bali, Balawan, bersama para maestro gamelan Bali yang tergabung dalam Balawan Maestro Gamelan Project menggelar konser perdana pada 24 September lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Sebuah kolaborasi yang digagas untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara individual ini menjadi bagian dari rangkaian acara bertajuk Gedung Kesenian Jakarta Internasional Festival 2011.

Personel Maestro Gamelan Project ini terdiri dari I Made Subandi dan I Ketut Lanus yang memainkan gangsa, rindik, dan kendang perkusi. Lalu I Nyoman Suarsana pada kendang dan suling, serta I Wayan Sudarsana pada suling, cengceng, dan genggong. Ditambah oleh Ketut Tarmadi pada bass dan I Wayan Balawan pada gitar dan synth.

Para maestro gamelan ini menguasai lebih dari satu alat musik, mereka piawai memainkan dua hingga tiga alat musik, itu sebabnya mereka disebut sebagai maestro, demikian Balawan menjelaskan pada penonton. Meskipun hanya berenam, namun penampilan mereka malam itu tetap menawan dengan musik yang dihasilkan layaknya kelompok gamelan dengan belasan awak.

Mengawali pertunjukkan dengan masing-masing pemain gamelan memainkan alat musik mereka. Disusul dengan kemunculan Balawan ke atas panggung dan sebuah lagu berjudul “Biarkan Saja” membuka penampilan mereka malam itu. Gamelan Bali yang rancak berpadu dengan suara gitar dan bass menghasilkan harmoni musik yang enak di telinga. Sebuah sajian jazz fusion yang kental dengan nuansa etnik yang memikat.

Disetiap jeda lagu Balawan selalu membuka percakapan dengan penonton. Banyak hal yang diperbincangkan. Bahkan di salah satu sesi ia sempat memberi kesempatan bagi penonton untuk bertanya. Namun, karena tak ada yang mengajukan pertanyaan, Balawan pun kembali berbagi cerita.

Proyek yang digagas Balawan ini berangkat dari keinginan untuk mengeksplorasi musik tradisional khususnya gamelan Bali, yang sesungguhnya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, namun sayangnya sejauh ini justru lebih banyak dikenal di luar negeri. Selain itu, Balawan juga ingin menunjukkan kebanggaannya terhadap gamelan Bali. Kolaborasi yang dilakukannya juga merupakan upaya untuk menarik minat anak muda agar mau mengenal gamelan.

Proyek ini juga bertujuan untuk lebih mengenalkan para maestro gamelan Bali secara personal kepada publik. Selama ini mereka lebih banyak bermain bersama sanggar tempat mereka bernaung dan justru lebih sering tampil dalam pentas-pentas kesenian di luar negeri.

Pada pertunjukkan malam itu Balawan juga mengenalkan dan mejelaskan alat musik yang dimainkan satu persatu kepada penonton. Ia juga meminta masing-masing personel untuk menunjukkan teknik memainkan alat musik tersebut. Seperti gangsa (baca: gangse), yang bisa dimainkan sendiri atau berdua, dengan bilah-bilah logamnya harus diganti terlebih dahulu. Atau genggong yang memiliki suara yang unik.

Balawan, yang dikenal dengan teknik permainan gitar tapping technique atau touch technique dengan menggunakan 8 jari yang menyerupai piano ini, juga sempat mengaku kalau ia lebih senang memainkan gitar dengan satu leher dibandingkan dengan dua leher, karena lebih berat, meski penggemarnya lebih suka melihatnya beratraksi dengan gitar leher ganda. Balawan pun mempertontonkan bagaimana dengan menggunakan gitar dua leher, ia bisa memainkan banyak nada sekaligus.

Selain “Biarkan Saja”, malam itu sejumlah lagu mereka mainkan, seperti “Belajar Menari”, “Ririmemeri”, dan lagu anak-anak Bali, “Made Cenik”. Juga sebuah lagu berjudul “Kotekan” yang terdengar menarik. Balawan sempat bercerita bahwa menciptakan lagu tanpa lirik tidaklah mudah, mengingat hanya dengan musik mereka mengajak pendengar untuk bisa masuk dalam lagu yang diciptakan.

Seperti pada lagu berjudul “What’s Left Now in Our Land”. Menurut Balawan, lagu ini menggambarkan kegelisahan Balawan atas kondisi Bali saat ini, dimana seakan sudah tidak ada yang tersisa, bahkan sawah-sawah sudah berganti menjadi vila. Tak ketinggalan sebuah lagu berjudul “Jayaprana” juga dinyanyikan Balawan malam itu. Lagu ini biasa dinyanyikan Balawan bersama kelompoknya Batuan Ethnic Fusion.

Dalam konsernya malam itu, Balawan juga sempat mengajak penonton untuk menyaksikan sebuah film pendek yang kebetulan dibikin oleh adik iparnya, Agung Bayu Pramana dengan judul “Patung Berjiwa”. Film ini tidak bersuara, sehingga selama diputar, Balawan mengisi musik background-nya secara live.

Pertunjukkan yang memikat dan sebuah ‘project’ yang layak didukung. Balawan Maestro Gamelan Project membuktikan lewat ‘kemasan’ yang tepat, musik tradisional tetap menarik untuk dinikmati.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.