Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata fitting room? Lupakan gambaran tentang kamar pas yang biasa anda jumpai di butik atau mall dimana anda bisa mencoba sejumlah pakaian yang akan anda beli. Dan jangan berharap akan menemukan ruang semacam itu dalam pameran Mella Jaarsma yang bertajuk The fitting room yang digelar di Galeri Nasional dari 27 Oktober hingga 8 November mendatang.
Fitting room Mella Jaarsma bicara tentang identitas yang seringkali berpilin baik dalam label agama, suku, ras, kelas sosial, kelompok kepentingan dan sejenisnya. Persoalan ini yang terasa membingkai karya-karya Mella yang tampil dalam format instalasi, video, fotografi, dan lukisan yang diciptakan sejak 1993.
Dalam karyanya yang berjudul refugee only, Mella menampilkan semacam kostum yang tampak lebih mirip sebuah tenda daripada pakaian. Kostum tersebut terdiri dari dua jenis, yang pertama terbuat dari kulit yang dilengkapi sejumlah gesper di seluruh bagian dengan label sejumlah merk ternama. Kostum kedua terbuat dari sejenis kain terpal berwarna hijau, yang hanya memperlihatkan bagian mata dan sebagian tangan, sementara bagian yang lain tertutup rapat. Di bagian dalam kostum tersebut terdapat kantong-kantong yang digunakan untuk menyimpan piring, gelas, sikat gigi, juga shampoo. Selain itu sebuah rosario dan tasbih tampak tergantung disana. Dengan bentuk mirip tenda yang hanya cukup dipakai untuk satu orang dengan posisi berdiri, maka karya ini tampak seperti kostum sekaligus tenda.
Kostum yang juga berfungsi seperti tenda tersebut seolah menegaskan keberadaan pengungsi yang bermigrasi dari tempat asalnya. Sementara simbol agama yang dimunculkan mengisyaratkan bagaimana identitas bisa tetap melekat dimanapun seseorang berada selama simbol-simbol yang merujuk pada satu kelompok agama atau budaya tertentu tersebut tetap dikenakan.
Agak mirip dengan konsep yang digunakan dalam refugee only, dalam karya instalasi dan video berjudul Shelter Me I-IV, Mella menampilkan semacam shelter yang juga sekaligus bisa berfungsi sebagai kostum. Bisa dibilang instalasi ini menggabungkan antara karya arsitektur dengan pakaian. Sesuai dengan namanya – shelter yang merupakan tempat berlindung atau bernaung – instalasi ini mirip rumah dalam bentuk yang sangat sederhana. Terbuat dari material kayu, kulit kayu, seng, dan kain, Shelter menampilkan kerangka bangunan dari kayu yang dilengkapi dengan atap dan kostum yang terbuat dari baju tentara, kulit kayu, sejenis kulit dengan motif-motif tato dan kain dengan cetak digital. Shelter ini juga hanya bisa menampung satu orang dalam posisi berdiri. Seperti karya instalasinya yang berwujud kostum, semua instalasi ini hanya menampakkan bagian mata.
Dengan penyatuan antara kostum dan konstruksi yang mirip rumah, instalasi ini mengingatkan saya pada makhluk bernama keong yang selalu membawa-bawa rumahnya kemanapun dia pergi. Terlebih dalam rekaman video diperlihatkan bagaimana seorang model ’mengenakan’ salah satu shelter dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Disisi lain karya ini juga mengingatkan saya pada kecenderungan masyarakat modern yang memiliki mobilitas yang tinggi. Pergerakan manusia menjadi tak lagi terbatas dan dalam proses tersebut identitas yang melekat pada dirinya yang termanifestasikan dalam wujud kostum atau pernak-pernik yang lain juga ikut mengalami perpindahan.
Sementara dalam karyanya yang berjudul SARA-swati, Mella menampilkan kostum yang berbentuk seperti jubah yang terbuat dari batang pohon pisang kering yang dianyam. Kostum ini hanya memperlihatkan bagian mata dan menutup bagian tubuh yang lain. Dibagian depan tampak jari-jari tangan yang menyerupai telunjuk mencuat keluar. Pemilihan nama dan cara penulisan karya instalasi ini merujuk pada dua hal sekaligus. Saraswati, nama salah satu dewi dalam tradisi Hindu dan SARA, terminologi yang digunakan orde baru untuk ‘mengelola’ konflik horizontal. Sara adalah kepanjangan dari suku, agama, ras, dan antar golongan. Keempat hal tersebut adalah isu sensitif yang seringkali dihindari sebagai topik pembicaraan.
Instalasi ini mengingatkan saya pada sejumlah konflik antar suku dan etnis yang terjadi selama satu dekade terakhir. Sesudah tragedi Mei 1998 dimana sejumlah etnis tionghoa diperkosa dan dibunuh dalam kerusuhan yang memaksa presiden kedua RI, Suharto mengundurkan diri, sejumlah konflik etnis muncul di berbagai daerah. Konflik tersebut seringkali membuat masing-masing kelompok saling tuding dan menyalahkan. Seperti jari-jari tangan yang menerobos keluar jubah dan menuding kearah pihak lain.
Dalam konteks ini identitas menjadi penanda penting yang membedakan antara satu kelompok dengan kolompok lain. Namun dalam instalasi berjudul The follower, Mella menunjukkan bahwa identitas tidak bersifat tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat secara bersamaan dalam diri seseorang. Dalam the follower, Mella menampilkan kostum berupa jubah yang terbuat dari emblem yang disambung dengan dijahit hingga membentuk seperti jubah. Emblem yang dipakai merupakan lambang sejumlah organisasi, seperti emblem lambang perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, klub pecinta olahraga, kelompok minat dan sejenisnya. Seperti kostum-kostum yang lain, the follower juga hanya menampilkan bagian mata saja dan menutup rapat bagian tubuh yang lain.
Lewat karya ini Mella seolah menegaskan bahwa identitas yang melekat pada diri seseorang tidaklah tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat pada diri seseorang pada saat yang sama. Bila ditarik lebih luas, maka hal ini bisa berlaku juga untuk konteks sebuah bangsa. Bagi saya karya ini sangat menggelitik. Saya jadi teringat upaya yang dilakukan sekelompok golongan beberapa waktu terakhir yang mencoba memaksakan lewat berbagai cara sebuah nilai, sebuah identitas, sebuah kultur sebagai nilai, identitas dan kultur tunggal bangsa ini karena menurut kelompok tersebut nilai dan identitas itu mewakili kelompok agama mayoritas di negeri ini.
Lewat kostum, tenda, dan shelter, Mella menegaskan bahwa identitas bukan sesuatu yang fixed, sebaliknya identitas bersifat cair. Sebuah kostum bisa mengidentifikasi seseorang sebagai bagian atau anggota kelompok agama, sosial dan budaya tertentu. Menarik mencermati kecenderungan Mella untuk mengambil bentuk jubah atau kerudung dalam sejumlah karyanya. Kerudung atau jubah bisa menjadi penanda yang mengasosiasikan pemakainya dengan identitas tertentu. Disisi lain kostum tersebut juga bisa menyembunyikan identitas pemakainya. Lewat karya-karyanya Mella mengajak kita mempertanyakan identitas yang seringkali menjadi pemicu konflik dan persoalan.
