Mempertanyakan identitas lewat karya Mella Jaarsma

•November 6, 2009 • Leave a Comment

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata fitting room? Lupakan gambaran tentang kamar pas yang biasa anda jumpai di butik atau mall dimana anda bisa mencoba sejumlah pakaian yang akan anda beli. Dan jangan berharap akan menemukan ruang semacam itu dalam pameran Mella Jaarsma yang bertajuk The fitting room yang digelar di Galeri Nasional dari 27 Oktober hingga 8 November mendatang.

Fitting room Mella Jaarsma bicara tentang identitas yang seringkali berpilin baik dalam label agama, suku, ras, kelas sosial, kelompok kepentingan dan sejenisnya. Persoalan ini yang terasa membingkai karya-karya Mella yang tampil dalam format instalasi, video, fotografi, dan lukisan yang diciptakan sejak 1993.

Dalam karyanya yang berjudul refugee only, Mella menampilkan semacam kostum yang tampak lebih mirip sebuah tenda daripada pakaian. Kostum tersebut terdiri dari dua jenis, yang pertama terbuat dari kulit yang dilengkapi sejumlah gesper di seluruh bagian dengan label sejumlah merk ternama. Kostum kedua terbuat dari sejenis kain terpal berwarna hijau, yang hanya memperlihatkan bagian mata dan sebagian tangan, sementara bagian yang lain tertutup rapat. Di bagian dalam kostum tersebut terdapat kantong-kantong yang digunakan untuk menyimpan piring, gelas, sikat gigi, juga shampoo. Selain itu sebuah rosario dan tasbih tampak tergantung disana. Dengan bentuk mirip tenda yang hanya cukup dipakai untuk satu orang dengan posisi berdiri, maka karya ini tampak seperti kostum sekaligus tenda.

Kostum yang juga berfungsi seperti tenda tersebut seolah menegaskan keberadaan pengungsi yang bermigrasi dari tempat asalnya. Sementara simbol agama yang dimunculkan mengisyaratkan bagaimana identitas bisa tetap melekat dimanapun seseorang berada selama simbol-simbol yang merujuk pada satu kelompok agama atau budaya tertentu tersebut tetap dikenakan.

Agak mirip dengan konsep yang digunakan dalam refugee only, dalam karya instalasi dan video berjudul Shelter Me I-IV, Mella menampilkan semacam shelter yang juga sekaligus bisa berfungsi sebagai kostum. Bisa dibilang instalasi ini menggabungkan antara karya arsitektur dengan pakaian. Sesuai dengan namanya – shelter yang merupakan tempat berlindung atau bernaung – instalasi ini mirip rumah dalam bentuk yang sangat sederhana. Terbuat dari material kayu, kulit kayu, seng, dan kain, Shelter menampilkan kerangka bangunan dari kayu yang dilengkapi dengan atap dan kostum yang terbuat dari baju tentara, kulit kayu, sejenis kulit dengan motif-motif tato dan kain dengan cetak digital. Shelter ini juga hanya bisa menampung satu orang dalam posisi berdiri. Seperti karya instalasinya yang berwujud kostum, semua instalasi ini hanya menampakkan bagian mata.

Dengan penyatuan antara kostum dan konstruksi yang mirip rumah, instalasi ini mengingatkan saya pada makhluk bernama keong yang selalu membawa-bawa rumahnya kemanapun dia pergi. Terlebih dalam rekaman video diperlihatkan bagaimana seorang model ’mengenakan’ salah satu shelter dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Disisi lain karya ini juga mengingatkan saya pada kecenderungan masyarakat modern yang memiliki mobilitas yang tinggi. Pergerakan manusia menjadi tak lagi terbatas dan dalam proses tersebut identitas yang melekat pada dirinya yang termanifestasikan dalam wujud kostum atau pernak-pernik yang lain juga ikut mengalami perpindahan.

Sementara dalam karyanya yang berjudul SARA-swati, Mella menampilkan kostum yang berbentuk seperti jubah yang terbuat dari batang pohon pisang kering yang dianyam. Kostum ini hanya memperlihatkan bagian mata dan menutup bagian tubuh yang lain. Dibagian depan tampak jari-jari tangan yang menyerupai telunjuk mencuat keluar. Pemilihan nama dan cara penulisan karya instalasi ini merujuk pada dua hal sekaligus. Saraswati, nama salah satu dewi dalam tradisi Hindu dan SARA, terminologi yang digunakan orde baru untuk ‘mengelola’ konflik horizontal. Sara adalah kepanjangan dari suku, agama, ras, dan antar golongan. Keempat hal tersebut adalah isu sensitif yang seringkali dihindari sebagai topik pembicaraan.

Instalasi ini mengingatkan saya pada sejumlah konflik antar suku dan etnis yang terjadi selama satu dekade terakhir. Sesudah tragedi Mei 1998 dimana sejumlah etnis tionghoa diperkosa dan dibunuh dalam kerusuhan yang memaksa presiden kedua RI, Suharto mengundurkan diri, sejumlah konflik etnis muncul di berbagai daerah. Konflik tersebut seringkali membuat masing-masing kelompok saling tuding dan menyalahkan. Seperti jari-jari tangan yang menerobos keluar jubah dan menuding kearah pihak lain.

Dalam konteks ini identitas menjadi penanda penting yang membedakan antara satu kelompok dengan kolompok lain. Namun dalam instalasi berjudul The follower, Mella menunjukkan bahwa identitas tidak bersifat tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat secara bersamaan dalam diri seseorang. Dalam the follower, Mella menampilkan kostum berupa jubah yang terbuat dari emblem yang disambung dengan dijahit hingga membentuk seperti jubah. Emblem yang dipakai merupakan lambang sejumlah organisasi, seperti emblem lambang perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, klub pecinta olahraga, kelompok minat dan sejenisnya. Seperti kostum-kostum yang lain, the follower juga hanya menampilkan bagian mata saja dan menutup rapat bagian tubuh yang lain.

Lewat karya ini Mella seolah menegaskan bahwa identitas yang melekat pada diri seseorang tidaklah tunggal. Sejumlah identitas bisa melekat pada diri seseorang pada saat yang sama. Bila ditarik lebih luas, maka hal ini bisa berlaku juga untuk konteks sebuah bangsa. Bagi saya karya ini sangat menggelitik. Saya jadi teringat upaya yang dilakukan sekelompok golongan beberapa waktu terakhir yang mencoba memaksakan lewat berbagai cara sebuah nilai, sebuah identitas, sebuah kultur sebagai nilai, identitas dan kultur tunggal bangsa ini karena menurut kelompok tersebut nilai dan identitas itu mewakili kelompok agama mayoritas di negeri ini.

Lewat kostum, tenda, dan shelter, Mella menegaskan bahwa identitas bukan sesuatu yang fixed, sebaliknya identitas bersifat cair. Sebuah kostum bisa mengidentifikasi seseorang sebagai bagian atau anggota kelompok agama, sosial dan budaya tertentu. Menarik mencermati kecenderungan Mella untuk mengambil bentuk jubah atau kerudung dalam sejumlah karyanya. Kerudung atau jubah bisa menjadi penanda yang mengasosiasikan pemakainya dengan identitas tertentu. Disisi lain kostum tersebut juga bisa menyembunyikan identitas pemakainya. Lewat karya-karyanya Mella mengajak kita mempertanyakan identitas yang seringkali menjadi pemicu konflik dan persoalan.

bilakah kau sadari

•August 25, 2009 • Leave a Comment

satu hari tlah terlewati
sebuah asa tlah coba dihidupi
meski mungkin tak jua kau pahami

satu hari kembali menanti
asa ini belum hendak mati
entah kapan kau mau mengerti

adakah juga

•February 25, 2009 • Leave a Comment

lalu tanpa direncana dirimu hadir begitu saja
penuhi ruang ruang pikiran di tiap pejam mata
pun kala terjaga tanpa kutahu mengapa

lalu tanpa peringatan ada getar terasa
yang hangatkan ujung ujung indra di tiap jumpa
dan entah mengapa gundah meraja bila tak bersua

lalu tanpa memaksa
kuajukan sebuah tanya
adakah juga kau rasa

Single Happy

•February 18, 2009 • Leave a Comment

Bukan semata oppie andaresta yang membuat saya menyukai single happy, lagu terbarunya. Oppie tentu menjadi faktor signifikan mengingat dia salah satu penyanyi favorit saya. Perpaduan antara vokal yang berkarakter, kemampuan mencipta lagu, dan gaya yang khas adalah sederet alasan untuk menempatkan oppie dalam daftar penyanyi favorit dan tak mengabaikannya di tengah booming penyanyi baru. Namun terlepas dari semua itu, lagu ini bisa dibilang memiliki ikatan yang cukup emosional lantaran seperti menyuarakan isi hati saya saat ini.

Masih melajang hingga usia 30 tahun sejujurnya tidak menjadi beban buat saya. Ada cukup banyak alasan untuk tidak membuat saya tidak bahagia. Singkat kata saya tetap enjoy menjalani hari-hari saya. Namun sebaliknya, justru orang-orang di sekitar saya yang mulai risau, terutama orang tua saya. Dengan latar belakang kedua orang tua saya yang cukup konvensional, maka urusan menikah menjadi soal penting buat mereka.

Selama ini saya merasa sungguh sangat bersyukur tidak terlahir sebagai anak pertama. Karena artinya segala tetek bengek yang berkaitan dengan ‘tuntutan sosial’ yang standar, termasuk salah satunya urusan menikah, menjadi berlaku lebih longgar buat saya. Namun saya tak bisa mengelak juga dari persoalan tersebut ketika hingga saat ini saya memasuki usia kepala tiga masih bertahan dengan status single. Maka ketika saya berulang tahun beberapa pekan yang lalu, ibu saya menelpon untuk memberi ucapan selamat dan ini yang paling penting, menanyakan hal ihwal kekasih saya yang akhirnya berujung pada persoalan umur saya yang sudah kepala tiga dan masih single.

Seperti lirik lagu oppie, persoalan umur ini juga yang menjadi pintu masuk ibu saya ketika membicarakan hal tersebut. Argumen ibu berangkat dari aspek biologis dan kesehatan. Menurutnya perempuan memiliki umur biologis, maka menjadi terlalu riskan jika menikah diatas 30 tahun dan bla bla bla yang lain. Sementara menurut saya kemajuan teknologi di bidang kedokteran saat ini bisa menjadi jawaban atas kekhawatiran ibu saya. Lagipula bila muaranya adalah masalah anak, saya rasa pertalian darah bukan satu-satunya jawaban. Begitulah, setiap argumen yang disampaikan ibu selalu saya tanggapi dengan jawaban-jawaban yang bisa diterima nalar. Pada intinya saya tidak ingin ibu saya risau memikirkan anak perempuannya yang terakhir yang belum menikah.

Buat saya pasangan jiwa itu akan datang dengan sendirinya. Bukan dalam arti kepasrahan dalam konsepsi sebagai kodrat yang terberi. Namun dalam pemahaman bahwa dari interaksi keseharian dan pertemanan kita dengan banyak orang, secara dialektis akan membawa kita pada relasi yang lebih personal ketika menemukan titik persinggungan pada wilayah yang menjadi perhatian bersama yang pada akhirnya akan membawa masing-masing pada satu titik pijak bersama. Di sinilah menurut saya ungkapan indah pada waktunya menemukan nyawanya.

Dan kalau bicara masalah kebahagiaan, karena bukan suatu kondisi yang terberi begitu saja, maka bisa diupayakan untuk dicapai baik ketika dalam kondisi single maupun tidak. Dengan kata lain kebahagiaan dan status tidak selalu berbanding lurus.

Oppie bisa merepresentasikan apa yang dirasakan para lajang seperti saya dengan tepat. Apa yang saya rasakan saat ini bisa terangkum dengan indah dalam lirik-lirik lagunya. Jadi, makasih oppie buat lagunya yang indah.

jatuh

•October 4, 2008 • Leave a Comment

tak ada yang berubah dengan detak sang waktu
ketika hadirmu menjadi denting yang porak porandakan melodi hatiku
hingga tak ada yang bisa kulakukan
selain biarkan diri menari dalam alunan getar yang tercipta

unfinished searching

•October 1, 2008 • Leave a Comment

jika waktu adalah bentang ruang dan jarak
maka musim kan jadi saksi
panjang perjalanan yang kutempuh tuk menggapaimu

mati rasa

•April 28, 2008 • Leave a Comment

sesungguhnya hanya sejenak jarak yang kuminta
sedikit ruang untuk berbincang sendiri dan membalur rasa
dan tak ada yang berkurang secuilpun daripadamu karenanya
kecuali mungkin sejengkal waktu kebersamaan kita
karna tak ingin lari dari kenyataan bahwa pertemanan adalah keniscayaan
dan tak hendak mengelak dari rasa yang telah menjadi sejarah
namun kau sebar ucap tentang aku yang diam tanpa sebab
dan persalahkan diriku seolah kau seorang asing
aroma imaji bernada minor tercipta dan meruap di angkasa
lalu terburailah jaring jaring ikatan dan koyakkan jalinan pertemanan
lalu kata jadi hampa
lalu tawa jadi senyap
lalu makna jadi hilang
lalu kosong
lalu sunyi
lalu mati
lalu

melukis ingatan

•April 14, 2008 • Leave a Comment

seperti kilat menyambar yang cairkan waktu dari kebekuan
aku terjaga dan temukan diri terlempar dalam gerbong waktu yang melaju kencang
seperti sebuah perjalanan rahasia yang menawarkan kejutan entah di stasiun keberapa
dengan segala kemungkinan membentang yang memaksa diri untuk slalu berjaga
karna ajal tak bisa ditawar namun tak pernah bisa dipastikan
entah mengapa aku teringat sisyphus dengan bongkah batu dan puncak bukit yang slalu kembali di daki

sementara berbagai peristiwa berkelebatan seperti kepak sayap kupu memintal angin dan jadikan badai
tak jarang seperti gemuruh guntur yang tinggalkan lubang di semesta
namun ingatan tak sekokoh waktu yang mengabur bersama alpa dan lupa
maka kulukis ingatan dan membingkai waktu
hingga merah hitam putihnya kehidupan tak lalu bersama angin
karna kita dikutuk menulis sejarah sendiri

Menjual kontroversi lewat silat lidah perempuan

•February 2, 2008 • 1 Comment

Terdorong rasa penasaran atas iklan yang sempat saya lihat, akhirnya malam itu saya luangkan waktu untuk melihat silat lidah, acara talkshow atau bincang-bincang yang ditayangkan antv. Awalnya saya masih bisa enjoy, melihat dan mendengar komentar dan tanggapan para panelis atas permasalahan yang diajukan oleh pemirsa lewat email. Namun, lama-kelamaan saya merasa acara ini sekadar hiburan (kalau bisa disebut hiburan!) yang tidak menawarkan apa-apa.

Tampilnya para panelis perempuan adalah faktor awal yang membuat saya melirik program ini, namun apa yang tersaji dilayar kaca tampaknya masih belum beranjak dari frame umum yang selama ini dipakai industri media – televisi terutama – dalam merepresentasikan perempuan. Seperti diakui oleh Antonius Kelly Da Cunha, Eksekutif Produser Silat Lidah ketika ditanya alasan dipilihnya panelis perempuan, “Perempuan kan lebih menarik, lebih rame. Kami memang penginnya rame.” (Kompas, 2 Desember 2007). Pernyataan ini menyiratkan bahwa yang dipentingkan dalam acara ini hanya sekadar kemampuan bersilat lidah sementara isi argumen adalah prioritas kesekian. Asumsi ini jelas berangkat dari pandangan stereotip bahwa perempuan adalah sosok yang banyak bicara atau cerewet.

Dan apa yang dimaui oleh sang produser memang benar-benar terejawantahkan dalam setiap episode silat lidah. Para panelis saling timpal menanggapi isu yang dilempar Irwan Ardian, host acara. Apalagi aturan main dalam memberi tanggapan juga tidak terlalu diatur, boleh saling menyahut. Dan ketika perdebatan diantara para panelis semakin memanas, maka Irwan akan meniup peluit untuk mengakhiri perdebatan tersebut. Soal bagaimana jawaban atau solusi atas permasalahan yang ditanyakan menjadi tidak penting lagi karena yang dipentingkan adalah munculnya perdebatan panas diantara para panelis. Ini semakin menegaskan anggapan negatif yang ada di masyarakat bahwa perempuan hanya bisa bicara namun bukan pemberi solusi. Pun tanggapan salah satu panelis, Ratna Sarumpaet misalnya, cukup berisi, namun menjadi termentahkan oleh komentar-komentar Irwan Ardian yang negatif.

Harus diakui sebuah program seringkali tak bisa lepas dari setting, pun pula silat lidah. Tanggapan dari para panelis dan terutama host acara tidak bisa lepas dari arahan sang sutradara. Ini diakui oleh Irwan ketika ditanya soal gayanya dalam membawakan acara tersebut, “Saya dituntut tampil dengan karakter apatis, ‘machois’, dan menggunakan power sebagai lelaki.” (Koran Tempo, 25 November 2007). Pernyataan Irwan menyiratkan bahwa sebagai host acara, dirinya yang adalah laki-laki diposisikan sebagai seteru dari para panelis yang perempuan. Maka tak perlu heran jika sepanjang acara Irwan sering mencela para panelisnya, bukan hanya terhadap pendapat mereka saja namun juga perangai mereka. The main rule-nya adalah menjadi oposisi dan bukan partner.

Dengan kata lain acara ini memanfaatkan posisi dominatif-subordinatif antara laki-laki dan perempuan untuk memancing perdebatan bahkan kontroversi. Ketika perdebatan yang terjadi semakin memanas, maka diharapkan akan menyeret penonton untuk larut dalam perdebatan tersebut, yang pada akhirnya akan berujung pada persoalan perolehan rating. Kontroversi akan “memaksa” orang untuk mengambil posisi dan memberikan pendapat. Silat Lidah mengambil keuntungan dengan masuk lewat pintu tersebut. Tampaknya Silat Lidah berhasil jika dilihat dari banyaknya respon penonton baik yang mengirim pesan pendek dan ditampilkan dilayar televisi selama acara berlangsung maupun yang masuk ke website acara tersebut dan berkirim email. Bahkan menurut Kelly sejak digelar stripping atau setiap hari di Silat Lidah Pagi, email yang masuk per hari mencapai 200.000 atau 1,6 juta email dalam sebulan (Kompas, 2 Desember 2007). Namun jika dilihat satu per satu komentar-komentar tersebut cukup beragam mulai dari mencela, memuji, mengusulkan tema atau panelis baru, hingga memaki-maki.

Dengan hanya menjual kontroversi lewat perdebatan yang bisa melebar kemana-mana tanpa kesimpulan, maka jangan berharap untuk mendapat solusi atau jawaban atas persoalan-persoalan yang dikemukakan. Sebagaimana tagline yang selalu dikatakan Irwan, “jangan pernah sakit hati” maka pemirsa ‘dipaksa’ untuk tak perlu terlalu serius menanggapi perdebatan tersebut karena tampaknya acara tersebut memang di-setting sebagai acara bincang-bincang yang ringan dan menghibur. Maka ketika acara ini selesai, tak akan ada apapun yang tertinggal di ingatan anda.

Dan walau menurut sang produser Silat Lidah menawarkan format bincang-bincang yang baru dengan memakai gagasan ngobrol dengan panelis, namun sebenarnya tak ada yang baru sama sekali di sini. Formula yang dipakai masih sama. Kontroversi diciptakan dengan asumsi stereotip atas perempuan dan laki-laki. Daya tarik masih dipusatkan pada perempuan — dengan label yang konvensional. Singkatnya, Silat Lidah masih berkubang pada pola yang sama yang ditawarkan oleh televisi kita selama ini.

soliloquy

•January 14, 2008 • 2 Comments

mungkin tuhan bisa jadi jawaban
untuk menutup lubang-lubang keingintahuan
yang tak bisa dijawab oleh logika

tapi aku tak mampu jadikan tuhan
penutup lubang pikiran dan hatiku
karna aku bukan maria